Mencari Pulang

Mencari Pulang

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 3, 2025
Apa yang kau sebut rumah ketika keluarga sendiri meninggalkanmu? Arsen Rafael Aditya pernah tinggal di Korea selama lima tahun bersama orang tuanya-hingga suatu hari, mereka pergi dan tak pernah kembali. Kehilangan, pengkhianatan, dan kehampaan mendorongnya ke titik terendah. Hingga ia bertemu Sena-wanita tomboy berhijab yang tak hanya menyelamatkannya dari maut, tapi juga perlahan membangunkannya dari keterpurukan. Arsen kembali ke Korea, bukan hanya untuk mengajar, tapi untuk menjawab satu pertanyaan besar: Apakah "rumah" itu tempat, seseorang, atau... dirinya sendiri? Sebuah perjalanan pulang yang tak pernah benar-benar sederhana. Tolong baca dan support cerita ini ya guys... Mohon tinggalkan jejak bintang dan beri kritik serta sarannya juga. -Khamsa Hamnida❣
All Rights Reserved
#474
arsen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Naura Rahsya
  • Langkah Kecil Menuju Negeri Ginseng
  •  𝟕 𝐑𝐚𝐠𝐚 𝟏 𝐑𝐚𝐬𝐚 || 𝐄𝐍𝐇𝐘𝐏𝐄𝐍 [𝐎𝐧𝐠𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • "KEANA"
  • Cermin TAK Sama
  • Senna
  • La Casa del Alma
  • Your Silence ✔  [TELAH TERBIT]
  • Kau Rumahku

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines