We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
SECOND TRY ✔️ (Sudah Terbit)

SECOND TRY ✔️ (Sudah Terbit)

  • WpView
    Reads 522
  • WpVote
    Votes 63
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Dec 20, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Kau membuatku bahagia dengan cara yang orang lain tak bisa melakukannya. Mungkin itu adalah kata-kata yang pas untuk Elana Maggia, sang desainer kondang Indonesia ketika dibebankan pada dua pilihan masa lalu yang bersedia memulai kembali kisah mereka. Perpisahan lampau nampaknya belum benar-benar menyelesaikan sebuah rasa yang pernah mereka miliki. Antara Marco Vittorio d'Este, sang aktor Italia yang pernah menjadi suaminya, atau Anggara Daneswara, sang dokter ortopedi yang pernah menjadi kekasihnya dengan segala kenangan indah dan luka yang masing-masing mereka ciptakan pada Elana. Namun, apakah waktu benar-benar tetap menjaga apa yang mereka miliki sebelumnya hingga dapat dirajut kembali? Ataukah genangan asa itu hanyalah sekelumit fatamorgana saat mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa sang waktu telah menjadikan mereka sosok yang berbeda? Akankah Elana memilih kembali dengan salah seorang di antara mereka atau melepas masa lalu yang masih kerap menghantui alam bawah sadarnya? *Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Novelet Profesi Favorit oleh BookOffice. *Tamat : 20 Desember 2022
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [End] Behind The Heart
  • (End) Ketika Hanya Hati yang Saling Bicara
  • Touch My Heart
  •  Holding you
  • Mr. Duda [END]
  • Second Chance Romance ✓
  • My Possessive (ex) Fiancé
  • STROBERI DAN KOPI
  • Yang Pernah Patah
  • Aku Hanya Ingin Menikahi Kembaranmu

[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkejut, maupun cemas. Sebaliknya, ia balik tersenyum dan menunjukkan raut lega. Lalu pelan, bibirnya mulai berucap, "Tidak, terima kasih. Tapi, aku tidak ingin sembuh. Jadi, dok ... biarkan aku tetap sakit dan meninggal pada akhirnya." Galiya Mira Tabitha -Pasien dengan tingkat keinginan mati 100%- Pria itu melihatku bingung. Penuh rasa khawatir dan takut. Ia bertindak seakan dirinya adalah pasien dan aku sebagai dokternya. Lalu cepat, suaranya mulai kembali terdengar, "Saya tidak mengerti. Kenapa ... kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu? Kematian bukan sesuatu yang mudah. Dan saya ... saya tidak akan membiarkan kamu untuk meninggal. Tidak akan pernah." Bagaimana jadinya, jika seorang dokter yang selalu ingin menyelamatkan nyawa seseorang, bertemu dengan pasien yang tidak ingin diselamatkan? Akankah tercipta sebuah pengertian? Atau justru membentuk sebuah akhir menyedihkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines