
Dia datang bak sebuah angin, berhembus dengan kencang secara tiba tiba membawa segala rasa dan kenangan yang hampir memadam. Dia yang menawarkan sebuah penawar lara tanpa rasa ragu ketika raga ini sedang beradu dengan lantang tatkala rasa yang kupunya hilang terbawa sosok tinggi yang bahkan bayangannya pun tak mampu untuk aku raih. Maaf telah membuatmu ikut terluka karena rasa ini, Maaf keegoisanku membuatmu tercabik, dan Terimakasih karna telah ada dalam hidup ini. "Kamu ga perlu jadi gunung yang selalu melindungiku yang bahkan lebih menyukai deburan ombak di lautan, karena itu semua pecuma asal kamu tau" ucap gadis itu ditengah gemuruh hujan yang sedang mengguyur heningnya malam. "Tapi ini semua bukan tentang sebuah tempat, ini semua tentang rasa dan kamu harus tau kalau aku mencintaimu ga peduli kamu belum bisa melupakannya ataupun kamu masih mencintainya yang aku tau aku mencintaimu dari awal hingga saat ini" balas laki-laki itu meyakinkan tentang rasa yang dia punya kepada seorang gadis yang kini tengah menangis dihadapannya itu. Hubungan tak tentu yang terukir karena sebuah rasa antara tiga orang manusia. Tentang dia yang mencintaiku terlalu awal, dan aku yang terlalu bodoh untuk rasa cintanya.Tous Droits Réservés
1 chapitre