DEGUP
  • WpView
    LECTURAS 744
  • WpVote
    Votos 107
  • WpPart
    Partes 8
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, feb 26, 2024
WpInfo
Ficción
Romance
"Kak, boleh minta tanda tangannya?" Naira menyodorkan papan kertasnya kepada Satrya. Satrya mendongak menatap Naira. Setelah meletakkan kamera di samping duduknya, Satrya meraih papan kertas Naira dan menggoreskan tanda tangan asal. Seharian ini entah sudah berapa banyak mahasiswa baru yang minta tanda tangannya, sebagai bagian tugas dari panitia ospek buat mahasiswa baru. "Sekalian ditulis nama kakak di bawahnya ya," ujar Naira yang masih berdiri di depan Satrya. Satrya kembali mendongak menatap Naira tajam, aneh. Tapi akhirnya ditulis juga namanya. Naira tersenyum puas. "Kenalin kak, saya Naira." ujarnya sambil mengulurkan tangannya pada Satrya. Tak lupa, senyuman lebar yang memperlihatkan susunan giginya yang rapi. Manis.
Todos los derechos reservados
#856
campus
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Misi Kalisa (End)
  • Hema Alkaris (and his life)
  • Assalamu'alaikum Paris 2 [ End ]
  • Eshal Renjana (Lengkap)✔
  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Because ILY [Completed]
  • Waiting For You [TAMAT]
  • Sadewa (END)

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido