GISTARA

GISTARA

  • WpView
    LETTURE 70
  • WpVote
    Voti 21
  • WpPart
    Parti 4
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione mer, set 6, 2023
Bagaimana rasanya hidup dengan keluarga yang harmonis? pasti menyenangkan. Aku juga ingin seperti orang lain yang memiliki orang tua yang selalu perhatian,selalu memberikan apresiasi terhadap apa yang dicapai oleh anaknya. Jika boleh memilih, tentu saja aku tidak ingin lahir dari keluarga yang berantakan. namun, aku selalu percaya dengan rencana-Nya atas hidup yang kujalani. tentang ayah ibu yang menciptakan luka untukku, aku mencintai mereka sebagaimana aku mencintai diriku. tak ada alasan untuk membenci mereka, meski aku hanya dihadiahi luka. Bahagia? kesedihan yang hanya tinggal menunggu waktu maksudmu? - Gistara Tanishka
Tutti i diritti riservati
#5
gistara
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Memories in Moon
  • Eliinaa
  • RAPUH!
  •  HAZELA
  • Senja yang mendung
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Arexsa Jackson Devidos
  • Seperti Tulang [SUDAH TERBIT]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti