Tetangga Ku Yang Tampan

Tetangga Ku Yang Tampan

  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 24, 2022
Aku tinggal di Perumahan gandaria city. Bukan nya mau sombong, tapi memang itu lah tempat tinggal ku sementara, alias aku suka nginep di rumah teman ku. Dan Tetangga teman ku itu laki laki yang tampan. Itu pun aku tahu wajah nya tampan karena dia pernah ku lihat tak sengaja ,di saat dia membuka jendela rumah nya, dan dia tersenyum melihat ku. Wajah nya blesteran . Dan menurut info nya dari Asisten rumah tangga (ART) nya itu, Laki laki itu bernama Tuan Naivedh. Dia itu pekerja keras ,saking keras nya bekerja dia pulang jam 12 malam, mirip jam kalong bukan. Tapi giliran hari sabtu nya, dia molor tidur sampai siang . Rumah nya itu luar biasa gedong, dan kata nya ada beberapa rumah elite lagi dan apartemen yang dia punya di luar negri kata si inem (nama ART ) nya.
All Rights Reserved
#237
cowokganteng
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sailing With You [END]
  • Abang Ganteng
  • Apalah Arti Menunggu Part 1
  • BAD
  • Istriku Terlalu Sibuk
  • DAKSA [END]
  • Eight Prince GoodLooking (End)
  • MR. LOVER  (COMPLETED)
  • RUMAH BERATAP BOUGENVILLE
  • ZERGAN

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

More details
WpActionLinkContent Guidelines