Cinta Yang Semu (Reynand & Tasya) || Complicated ||

Cinta Yang Semu (Reynand & Tasya) || Complicated ||

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 13, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
baca aja dulu siapa tau tertarik Bagaimana jadinya jika wanita yang seharusnya berada di ranjangnya bukan wanita yang menjadi targetnya, melainkan teman semasa kuliahnya. "Lo liat wanita yang di sana itu kan" ucap steven hingga membuat reynand melihat ke arah jari telunjuknya, lalu ia pun mengangguk. "Itu kan tifany, selebgram yang terkenal sosialita banget" balas agus. "Nah bisa gak lo naklukin dia diranjang, kalo bisa gue bakal kasih mobil terbaru gue buat lo rey, tapi kalo lo gagal, ya lo harus traktir kita selama sebulan full, sanggup gak lo?" tantang steven pada reynand. "Oke, siapa takut" balasnya. ~~~~~ "Aaa" teriak wanita tersebut ketika melihat dirinya di ranjang yang bukan miliknya tanpa busana. "Lo berisik banget sih tifany" balas sang empu yang masih belum sadar "Brengsek lo, beraninya lo nidurin gue" ucap tasya lalu menendang tubuh reynand hingga terjatuh ke lantai. "Auwh, apa-apaan sih lo nendang gue tifan..ny" ucapnya dengan kesadaran penuh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • RAYXLOZ
  • Salah Target [Unpublish]
  • Bersamamu
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • We Are Destiny (NEW)
  • PENA ASMARA | TAMAT✅
  • Mine [SELESAI] ✔
  • Rindu
  • Where's Home

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines