Nakala•||On Going•

Nakala•||On Going•

  • WpView
    Reads 754
  • WpVote
    Votes 77
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 2, 2024
Hujan deras mengguyur jalanan kota, menciptakan genangan air yang memantulkan lampu-lampu jalan. Di tengah rinai hujan, Nakala berlari tergesa-gesa dengan payung yang nyaris terlepas dari genggamannya. Napasnya tersengal, pikirannya penuh dengan satu nama-Jidan. Namun, ketika ia tiba di depan sekolah adiknya, waktu seakan berhenti. Tatapannya terhenti pada kerumunan orang yang berkerumun di seberang jalan. Di sana, tubuh adiknya tergeletak, basah oleh hujan dan merah oleh sesuatu yang tidak pernah ingin ia lihat. "Jidan!" Suaranya pecah, bercampur dengan suara hujan yang mengguyur dan sirine yang mulai mendekat. Semua terjadi begitu cepat, namun rasa bersalah itu datang lebih cepat lagi. Jika saja ia datang lebih awal. Jika saja ia tidak terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jidan pasti tidak akan nekat menyebrang sendirian di tengah hujan lebat. Ia pasti masih ada di sini, dengan senyum cerianya yang selalu mampu mengusir lelah. Kini, rumah yang dulu penuh canda tawa berubah menjadi dingin. Ayah dan ibu hanya berbicara seperlunya, sedangkan Jenan, kakaknya, tak pernah lagi memandangnya dengan cara yang sama. Setiap sudut rumah seakan mengingatkan Nakala pada satu hal: Ini semua salahmu. Di bawah beratnya rasa bersalah dan kebencian keluarga, Nakala hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri-mampukah ia bertahan? Atau, lebih baik ia pergi, membawa segala beban ini bersamanya?
All Rights Reserved
#10
nakala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rainbow
  • Nathalea
  • Eliinaa
  • Luka Naren.
  • JAM 3 SORE
  • Between us
  • FIZYA
  • acalapati
  • LIGHT
  • Broken melodies
Rainbow

''Chandra memang ingin melihat indahnya dunia, tapi jika dunia itu Chandra lihat tanpa kehadiran Mama rasanya akan sakit.'' -Chandra. Kehidupan kejam telah memisahkan Chandra si pemuda tunanetra dari sang ibu melewati gerbang maut. Sambil mengantarkan sepasang bola mata dengan harapan agar sang anak mampu melihat indahnya dunia jika sang ibu memberikannya pada Chandra ketika nyawa tak lagi berpihak pada sisa waktunya. Naas, harapan sang ibu tidak terkabul, bukan indahnya dunia yang Chandra dapat, melainkan dunia yang telah hancur menjadi sejuta kepingan kaca yang menusuk relung batinnya. Tak di sangka kepergian sang ibu membuatnya terluka tiap saat. Ia terluka berkat kata-kata hina yang terlontar dari lingkungannya. Dirinya pula terluka karena perundungan, pengasingan, serta hukuman yang di dapat pada tiap inci tubuhnya. Luka dari orang terdekatnya terutama pada rumah yang terlalu rusak untuk ia perbaiki saat ini. Bagaimana kisah perjuangannya? Mohon di simak cerita selanjutnya setelah kamu follow, bercandaa :)

More details
WpActionLinkContent Guidelines