Relung Cakrawala

Relung Cakrawala

  • WpView
    Lecturas 4,528
  • WpVote
    Votos 479
  • WpPart
    Partes 31
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación hace alrededor de 10 horas
WpInfo
Ficción
Romance
Setelah sempat terjatuh dalam kelamnya Jakarta dan kehilangan harapan karena ditinggalkan orang-orang tercinta, Cakra memutuskan untuk menyepi, kembali ke kampungnya, di pedalaman hutan sawit. Namun, bayangan masa lalu justru mencengkeram kehidupannya saat ini, membuat Cakra kembali terperangkap dalam dilema cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apakah Cakra bisa move on dan melanjutkan hidup, atau semakin tenggelam di dalam kesunyian hatinya? ***** (Cerita ini murni fiksi, imajinasi penulis. Jika ada kesamaan nama dan tempat, tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya) First upload: 7 January 2023 (Dilarang keras mengambil sebagian dan/atau seluruhnya tanpa izin penulis untuk ditiru/diplagiasi. Tidak akan pernah ada kebaikan bagi seorang plagiator!)
Todos los derechos reservados
#1
palembang
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Why you Comeback
  • Cinderella Tanpa Sepatu Kaca
  • I'm Still Hurt
  • Seribu Candi untuk Roro Jonggrang (On Going)  REVISI
  • Kos-kosan Mantan [Proses Revisi]
  • Monokrom [ON GOING]
  • Garis Takdir Sera [ON GOING]
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Stop It, Darka! [END]
  • Over Again (COMPLETED)

"Kenapa kamu balik lagi? dan tadi kamu bilang apa? mau perjuangin aku? Udah nggak ada guna nya" ujar gadis itu dengan penuh penekanan kepada pemuda yang bernama lengkap Gemilang Pratama. "Kasih aku kesempatan sekali lagi Sa. Aku minta maaf atas semua hal yang terjadi dulu. Aku bakal jelasin semuanya...aku janji bakal buat kamu jauh lebih bahagia kali ini," Ujar Tama lirih dan penuh permohonan. Tangan Tama berusaha untuk memegang pergelangan tangan gadis yang ia panggil, 'Sa'. Namanya Dia Carissa, kerap kali dipanggil Sasa. Namun, tangan Tama justru ditepis oleh Sasa. Sasa menatap Tama dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. Kekecewaan, kebencian, kerinduan, kecemasan, bercampur aduk dalam sorot mata Sasa. "Ga ada satupun kesempatan yang pantas aku berikan lagi ke kamu. Aku sangat berharap kamu MATI", ujar Sasa dan berlalu meninggalkan Tama dengan tergesa-gesa. Tama hanya bisa menatap kepergian Sasa dengan terpaku, pemuda itu terpaku pada kata terakhir yang dilontarkan oleh Sasa. MATI

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido