Annuebella

Annuebella

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 9, 2022
Sebujur tubuh perempuan terkulai di pojok kamar. Suara lirih merintih memeras air matanya dan darah mengalir dari luka yang terbuka di pelipis kirinya. Di samping tubuh itu berserakan pecahan botol minuman keras. Tepat di ambang pintu kamar itu tampak sesosok bayangan lelaki dengan tubuh tinggi besar, mata yang merah menyala dan tangan yang menggenggam erat separuh botol yang meruncing. Tak lama kemudian bayangan itu menghilang diiringi dengan suara bantingan pintu yang berdentum keras menyisakan kegelapan di kamar gadis itu. Hari demi hari tubuh perempuan itu semakin memar. Luka yang tertutup darah yang mengering kerap terbuka lagi dan lagi seiring dengan siksaan yang mendera jasadnya yang rapuh. Pada setiap gelap di kamar sumpek itu selalu ada seberkas suara yang berbisik dengan nada yang mengerikan. "Bunuh saja dia, bunuh, bunuh, bunuh." Di luar kamar yang pengap, sumpek dan gelap hingar bingar kota menyala di malam hari, menawarkan segala kenikmatan duniawi. Di sebuah bar, minuman keras dan berbagai prementasi anggur seakan tak pernah habis. Seorang pria ambruk di salah satu meja bar setelah menghabiskan tiga botol vodka, matanya teler, urat kepalanya tegang, dan mulutnya menggumamkan sesuatu. "Bunuh saja aku, bunuh, bunuh, bunuh." Fajar pun kian menyingsing minggu itu, lampu-lampu gedung dan jalanan kota mulai padam. Di atas pembatas jembatan yang membentang di atas sungai deras, berdiri seorang lelaki dengan tubuh tinggi besar yang mengenakan kemeja putih lusuh seperti sedang memantapkan hatinya untuk meloncat, namun sebelum tubuh itu terhempas dari pembatas jembatan seorang perempuan berparas cantik berlari mendekat sambil berteriak. "Jangan menjatuhkan lelaki itu, aku sangat mencintainya, kumohon!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Xagala
  • Archeron
  • the Story Untold
  • SIT DOWN!! [S1] (JASON WILIAM WINATA) Completed ✓
  • Menentukan Takdir Antagonis
  • ˖ ֹ੭୧ 𝐓𝐡𝐞 𝐑𝐞𝐝 𝐅𝐥𝐨𝐰𝐞𝐫 𝐏𝐚𝐭𝐡⊹ ࣪ ⑅ || 𝐌𝐓𝐏 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫 ||
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
Xagala

Sosok yang tampaknya lahir ke dunia hanya untuk menghancurkan apa pun yang ia sentuh. Xakia tidak pernah bisa melupakan bagaimana tatapan mata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan pada malam jembatan. Bagaimana ia hampir kehilangan segalanya. Dan bagaimana semuanya berakhir dengan satu pukulan keras satu hantaman yang membungkam monster itu. Gala, pria yang muncul entah dari mana, adalah sosok yang penuh misteri. Setelah malam itu, Xakia mulai melihatnya lebih sering. Selalu di tempat-tempat yang tidak seharusnya ia ada. Selalu dalam situasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia adalah bayangan yang mengikuti Xakia, seseorang yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Sekarang, di bawah hujan yang mengguyur tanpa henti, mereka kembali bertemu. Xakia menatap Gala dengan mata yang penuh pertanyaan. "Kenapa kau selalu muncul? Apa yang kau inginkan dariku?" Gala menghela napas, menyapu rambut basahnya ke belakang. "Aku tidak menginginkan apa pun." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya sesuatu yang tidak Xakia mengerti. "Lalu kenapa kau memukulnya?" Xakia menatap tubuh yang tak bergerak di tanah, darahnya bercampur air hujan, mengalir menuju lubang drainase di pinggir jalan. Gala tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tubuh itu sejenak, lalu berbalik menghadap Xakia. "Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah bisa lari." Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah udara sendiri menahan napas. Lalu, sirene polisi mulai terdengar di kejauhan. Lampu merah dan biru berpendar di balik rintik hujan. Gala menatap Xakia dalam-dalam. "Kita harus pergi. Sekarang." Dan tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Xakia, membawa gadis itu pergi dari malam yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines