Jingga 16:24

Jingga 16:24

  • WpView
    Reads 63,021
  • WpVote
    Votes 5,601
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadComplete Sat, Jan 14, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Secangkir kopi dan sebatang rokok, menemani sore di bawah langit metropolitan, tepatnya di atas balkon gedung yang belum selesai pengerjaannya namun sudah terbengkalai selama 2 tahun,bahkan masih banyak besi panjang yang berserakan di sini. Tempat ini sudah menjadi salah satu tempat ternyaman bagiku, tempat yang bisa sedikit mengurangi rumit nya hari ini. Mataku terus menatap langit, pesawat melintas di atas sana yang terlihat sangat kecil, ingin rasanya aku berteriak "KAPAL MINTA DUIT!!!", hal konyol yang selalu aku lakukan saat masih kecil, saat kasih sayang itu masih lengkap. Persetan dengan suara kendaraan dan klakson di bawah sana, Aku tetap memfokuskan pandanganku di langit yang kini berwarna jingga, menggantungkan setiap harapan doa dari seorang anak berengsek penjual nasi uduk sepertiku namun cita-citanya setinggi langit, semoga kamu(langit) tidak keberatan..
All Rights Reserved
#13
delshel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cerita Tentang Langit Malam
  • My handsome detective [Chrisdel] [END]
  • the story of us (delshel)
  • Me and My Broken Heart (Delshel)
  • Sadness
  • Lovely Bodyguard  [Zeeshel]
  • SIGMA NATIO (DelShel)
  • kecantol kotange londo
  • See me as myself, not my twin(delshel)END
  • Penguasa Alam Ghaib

Kenapa aku suka sekali menatap langit malam, karena disana ada kamu, Bintang. ▫️▪️▫️ "Langit malam itu indah ya!" "Tidak juga. Hanya gelap." "Tapi aku suka. Damai. Terlebih ...." "Terlebih apa?" dia menoleh padaku seperti ingin mengetahui apa yang akan aku katakan selanjutnya. "Terlebih ketika aku bisa menatap langit dan bersanding disebelahmu, Bintang." suara hatiku yang melanjutkan. "Terlebih kalau sambil makan coklat. Ehm ... aku jadi pengen. Beli yuk." "Dasar!" telapak tangan itu lembut sekali saat membelai rambutku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines