Riana & Satria

Riana & Satria

  • WpView
    LECTURAS 1,217
  • WpVote
    Votos 978
  • WpPart
    Partes 22
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, jul 6, 2024
Di pagi hari yang sangat sejuk, Riana melihat pemandangan yang indah. Tiba - tiba ibu nya memanggil Riana untuk sarapan. "Riana kita sarapan dulu, dan panggil kaka nya suruh sarapan juga" ucap ibu nya "iyaa bu" balas Riana Lalu Riana dan Kaka nya turun ke bawah untuk sarapan. Selesai makan Kaka nya jahilin rambut nya sih Riana "ihh kak jangan berantakin rambut aku dong" ucap Riana sambil marah "Biarin sih, tumben banget kamu rapih gini" ucap kaka nya yang bernada pelan "Lah emang ga boleh ya rapih begini? " -ucap Riana yang bernada marah "Boleh - boleh aja sih" (sambil ngambil tas) "Dah selesai kan makan nya, ayok kita berangkat ke sekolah, nanti takut telat "ucap ayah nya "Udah yah, bu kita jalan dulu ya bu ke sekolah. Assalamu'alaikum bu" ucap Riana dan kaka nya sambil cium tangan mama nya "Waalaikumsalam, hati - hati nak" - ucap ibu nya sambil melambai tangan Happy Reading gaesss.... . . . . . . Jangan lupa di follow + vote ya gaess Maaciiw 🥰🥰
Todos los derechos reservados
#215
marah
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • ABRIAGI [END]✔
  • REDIGUEZ FAMILY || END
  • COMPLICATED
  • Rannia√
  • SARAH STORY
  • Javas Drexzer [END]
  • SKY TRAPPED [END]
  • Kisah Yang Tak Berakhir
  • BIMANTARA [END]✔

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido