Kita dan Luka

Kita dan Luka

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 8, 2023
Ketika rumah berpulang bukan lagi tempat ternyaman, Ketika keluarga tidak lagi memberi kehangatan, Ketika luka menyamar tawa, Hari-hari kelam tidak pernah berakhir, Setiap orang memiliki sisi kelamnya masing-masing. Ada yang menyembunyikan luka dengan tawa, banyak sakit yang di ubah menjadi tidak apa-apa. Bukan karena munafik, tapi tidak semua luka bisa dipahami olah setiap orang.
All Rights Reserved
#30
tertekan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Benalu [Terbit]
  • Happy Is Bulshit
  • HAMPIR RAMPUNG [ OnGoing ]
  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • STARLA
  • ANGEL (END)
  • ON REMEMBERING
  • Sejenak Luka
  • Bukan Kita D.A.N

"Bahkan ibunya sendiri membuang anak itu." Semesta pun menghiraukannya, seperti bayangan yang tak pernah di anggap ada, seperti benalu yang tidak pernah di inginkan kehadirannya. *** Nyatanya, ada hasil yang menghianati usaha dan tidak semua usaha akan di kabulkan dengan hasil yang baik. Ya, Teresa sadar hal baik tidak akan pernah ada dalam kisah hidupnya. Benalu akan tetap menjadi benalu, sang penganggu yang tak pernah di inginkan ada. Tangisan pilu selalu keluar dari mulutnya yang menyimpan banyak kisah luka, entah waktu kecil atau bahkan sampai sekarang. "Seharusnya anak seperti kamu tidak lahir dari rahim saya!" ucap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Teresa Audiyatama. Seseorang yang berusaha menghilangkan label 'benalu' dan 'anak pembawa sial' di dalam diri dengan berbagai cara. Sakitnya di permainkan, di jadikan alat balas dendam, mendapat penghianatan yang begitu menyakitkan, sampai harus kehilangan orang-orang yang di sayangi. Tapi, kenapa semesta masi tidak mau berbaik hati padanya? Rasa sakit itu semakin menyakitkan. Setiap hari lubang kelam di hati semakin dalam, menyisahkan kekelaman yang mengerikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines