Are We in Love?

Are We in Love?

  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 20, 2024
WpInfo
Fanfic
NCT
Just a regular teenagers story. It is actually inspired by my own story when I was in middle school, with a litte bit of spices. I'm not copying any writer, and I hope you too. I hope you enjoy your readings. Good luck 😉 xoxo ♪❤ Langsung aja, ga usah basa-basi, nama ku Khaira Adara Mirsya, abangku Khairil Jamal Mirsya, Ibu ku Berlian Adara Sancha, Ayah ku (rahasia) soalnya nanti kamu ngatain nama bapak persis anak-anak sekolah, budaya yang sudah ada sejak jaman dahulu hingga sekarang. Aku suka Teh Tarik sama parata, makanan khas Sumatra itu loh. Kalo abang Jamal sukanya martabak sama es jeruk, tapi paling suka minum susu sih, persis kayak Jevano, sahabat ku. Sebentar, kenapa jadi ngomongin mereka? Jadi gini intinya, aku bingung temen-temen, aku kan udah temenan lama sama sahabat aku ini, tapi aku sendiri ga ngerti sama perasaan ku ke dia, apa lagi perasaan dia ke aku, tapi masa iyaa dia suka sama aku? So, are we in love? We don't know. Yet.
All Rights Reserved
#717
mark
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • DEVIAN [END]
  • Broken melodies
  • Best Friend To be Boyfriend -pjm ✔
  • He is not My Best Friend (End)
  • Love Affair : My Destiny
  • Seven Boys With Me
  • BestFriend [REVISI] - BTS BROTHER (END)
  • Perihal Sandwich(End)
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines