PROLOG
  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 22, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Aku ingin memulai kisah ini dengan sederhana, sesederhana senyum yang selalu kau berikan. Aku yakin bahwa kisah kita akan selalu abadi dan tidak akan pernah berakhir. Setiap episode dalam kehidupan selalu aku yakinkan sebagai prolog, karena aku gak mau akan ada epilog dalam hubungan kita. Tapi itu dulu. Iya dulu sebelum satu kalimat lahir dalam bibir manismu. Kalimat yang selalu aku hindari dalam sebuah hubungan. Aku sangat berhati-hati untuk mengucapkan kalimat itu, bahkan dalan keadaan aku bosan denganmu pun selalu aku tahan untuk tidak mengucapkan kalimat itu. Tapi dengan mudahnya kamu mengucapkannya. "Maaf aku tidak bisa lagi bersamamu". Kalimat macam apa itu? Mana janjimu yang dulu. Apa kau lupa bahwa di jari manisku sudah ada cicin pertunangan kita. Kau tega mempermainkan hubungan ini. Tak ada kata lain selain kata TEGA. Apa aku ini kamu anggap seperti sampah? Apa kau tak ingat janji kamu itu. Diusiaku yang cukup dewasa, apakah aku mampu membuka hati untuk orang lain, sedangkan orang yang aku nanti-nantikan sudah pergi dengan janjinya sendiri.
All Rights Reserved
#72
kerja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Remember Me As A Time of Day✅
  • ALGARA [TERBIT]
  • Nata, De & Coco
  • Kejar-Mengejar [SEGERA TERBIT]
  • Rendra & Lila [END]
  • OUR PROMISE
  • Miss You Love

Tidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hidup bahagia dalam bahtera rumah tangga. Dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Bahkan semua itu telah kita susun sedemikian apik dan terlaksana sesuai harapan. Namun ternyata kenyataan menamparku dengan kepergianmu. Kehidupan kita yang aku damba-dambakan sekarang hanya menjadi sebatas imajinasi. Sejak kepergianmu tak ada satu haripun yang aku lewati tanpa memikirkanmu Berulang kali ku paksa memoriku untuk memutar deretan hari yang kita lewati bersama kedua buah hati kita sebelum kepergianmu itu, berharap aku bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang menghantuiku. Namun tak ada satupun dari rentetan kenangan itu yang menjawab kegelisahanku. Sampai akhirnya waktu, benar membuatku terbiasa. Mencoba menghapus semuanya meski seringkali dadaku sesak karena tangis yang tak bisa kulepas. Dan kini sudah dua tahun kisah kita berakhir tanpa kata pisah Dan takdir seolah mempermainkanku dengan mempertemukan kita kembali secara tidak sengaja Kau masih sama, tidak ada yang berubah Kau masih seperti sosok yang dulu membuatku jatuh hati Tapi yang membuatku terpukul adalah Tuhan merenggut ingatanmu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines