THIS IS NOT A DREAM

THIS IS NOT A DREAM

  • WpView
    Membaca 10
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Mei 13, 2023
Dengan cepat aku membuka mata dan mendapati seorang pria duduk di samping ku sambil membelai pipiku lembut. Dengan cepat aku terduduk sedikit menjauh darinya. "kamu kenapa na?" aku masih terduduk diam sambil menatap wajahnya lamat-lamat. Dan, sialnya sekarang aku di atas Kasur putih bersama pria ini. Spontan aku melihat kea arah badanku, memastikan bajuku masih melekat sempurna. Tanpa aku sadari, dia semakin mendekat kepadaku dan menggenggam tanganku, spontan aku menepis tangannya kasar. Dia tampak sangat terkejut dengan perlakuanku. "kau siapa beraninya masuk ke kamarku!!!" akhirnya aku membuka suara, pria itu tampak kebingungan dengan bentakanku ku. "ini kamar kita zena, kenapa pagi ini kamu aneh?" oh tidak, pria ini tidak waras, dengan segera aku beranjak dari Kasur dan pergi dari kamar itu. Betapa terkejutnya aku saat keluar dari kamar, ini bukan rumahku. rumah ini sangat besar, bukan seperti rumahku. Dan lebih membuat terkejutnya lagi adalah, terpampang besar fotoku dengan pria aneh tadi di bingkai besar di belakang tv. Sial, ada apa ini sebenarnya? Apa ini mimpi sialan itu lagi? update minggu
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Home (Completed) (Repost)
  • I'm Hurt (Sehun - Jieun) (✔)
  • Skenario Hati [Sudah Terbit]
  • My Mysterious Boyfriend (TERSEDIA DI PLAY STORE)✔
  • SUGAR DADDY SYNDROME
  • Partner Sek*s
  • Sexy Deandra vs Bad Rayan
  • Affair With Me [21+]

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan