As Time Allows

As Time Allows

  • WpView
    Reads 7,389
  • WpVote
    Votes 2,927
  • WpPart
    Parts 32
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 15, 2026
"Cinta itu layaknya kanker." Bukan tanpa alasan Airisa berpikir demikian. Pasalnya, setelah merasakan patah hati dan omong kosong cinta monyet, krisis kepercayaan dirinya kembali merangkak naik, dan dia bersumpah untuk tidak akan membuka pintu hati lagi. Hingga semesta mempertemukannya dengan seorang siswa pemilik zona hening. Yang selalu tampak tenang dan tak ambil pusing dengan dunia sekitarnya. Dan karenanyalah rahasia demi rahasia terbongkar; mengungkap bahwa dunia tidak seburuk yang dikatakan, cinta tak semenakutkan yang dibayangkan, dan akan ada jalan bagi mereka yang ditakdirkan. Tapi, apakah ia siap dengan rencana semesta lainnya yang selalu penuh kejutan? . . . . . . . • Update setiap Selasa, Kamis, Sabtu. Kalau idenya lancar bisa setiap hari ;) • Restart : Monday, 19 January 2026 • Cover made by canva 🏅 #1 ceritasekolah #2 comingofage #2 wattpadrekomendasi #4 ceritaremaja #4 kenangan #4 kisahsma #2 teenagers #6 teenlove #3 masasekolah #7 kisahsma #3 teenlife #5 highschoolromance
All Rights Reserved
#375
highschoolromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • The First, Not the Last
  • FRIENDzone (Completed)
  • 𝐀𝐋𝐈𝐕𝐄
  • Let Me Love You Longer
  • FIZYA
  • Story About Him (SELESAI)
  • SELF LOVE
  • Different [END]
  • Become an Extra or Main Character [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines