C
  • WpView
    Reads 13,101
  • WpVote
    Votes 1,312
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadComplete Thu, Sep 19, 2024
"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?
All Rights Reserved
#24
astory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Live or Die [END]
  • DEAR RAGA
  • Happy Ending
  • Tokoh Utama
  • AMERTA : The Last Embrace
  • Kathréftis {καθρέφτης}|| End✓
  • Narasi patah hati

Sebagai orang yang mengidap penyakit mental, Davira Clarissa yang masih duduk di bangku kelas 12 SMA mengharapkan Tuhan mengabulkan salah satu dari dua harapannya. Yaitu untuk merasakan kematian atau ... membiarkannya hidup normal seperti yang lainnya. Hidup tanpa rasa sakit yang berlebihan dan tanpa dihantui oleh keinginan untuk mati, merupakan kehidupan yang sangat diharapkan oleh Davira. Tapi ia sadar, kehidupan seperti itu terlalu mewah untuknya. Lalu, mengapa pula Tuhan masih betah membuatnya menderita, bukannya mencabut nyawanya dengan cepat? Davira sangat putus asa dengan hidupnya Lalu seorang Damian Shaquille datang di hidupnya. Membuatnya memiliki harapan kembali. Tapi apakah harapan tersebut berhasil menyelamatkan Davira? ***** -YUUMICA -Dhita

More details
WpActionLinkContent Guidelines