Hujan selalu datang tanpa permisi-dan bagi gadis itu, hujan tak pernah benar-benar pergi.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam yang merenggut segalanya. Namun, waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan; ia hanya mengajarkan bagaimana cara menyimpan luka lebih dalam.
Setelah hujan itu, hidupnya tak lagi sama-bukan hanya karena ibunya yang tak pernah kembali, atau saudara kembarnya yang masih terbaring diam dalam koma panjang, tetapi juga karena rumah yang dulu hangat kini berubah menjadi ruang asing yang penuh jarak.
Ayahnya masih ada, tetapi tidak benar-benar hadir. Tatapannya menyimpan sesuatu yang tak pernah terucap-dingin, tajam, dan seolah menyalahkan. Seakan-akan, di antara semua yang hilang malam itu, satu hal yang seharusnya ikut lenyap... adalah dirinya.
Ia tumbuh dalam sunyi yang menggema, menjalani hari-hari seperti bayangan dari seseorang yang pernah hidup. Ia tumbuh dalam tatapan kebencian dari orang-orang yang dulu dia anggap... keluarga.
Namun, di balik semua itu, terselip satu harapan yang rapuh-bahwa setelah hujan yang begitu panjang, akan ada langit yang kembali cerah. Bahwa suatu hari nanti, luka-luka itu tidak lagi terasa seperti hukuman, melainkan bagian dari perjalanan pulang.
Cover by AI
All Rights Reserved