Call It A Day

Call It A Day

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 28, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Sheyla menarikan jemari lentiknya di kaca jendela, seolah ingin ikut melebur dalam tetesan air yang terus menghujani bumi tanpa ampun. Tanpa memedulikan Devan yang sampai saat ini masih terus memandangi dirinya, Sheyla hanyut dalam lamunan. Alih-alih mengabaikan kehadiran Devan, lebih sulit baginya untuk mengabaikan rasa sakit yang terus menghujam sesuatu di dalam dirinya selama dua minggu belakangan. Hujan dan ayam spicy McD bahkan belum mampu menghapuskan rasa sakitnya akibat pengkhianatan Derian. Tepat di hadapannya, tanpa Sheyla sadari, Devan pun tengah bergumul dengan isi kepalanya. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan, namun lelaki tampan itu tidak tahu bagaimana mengemas isi pikirannya ke dalam suatu kalimat yang, setidaknya, bisa meminimalisir tindakan anarkis Sheyla. Lima belas menit terlewati, Devan sudah tidak tahan. "Shey." Sheyla balas memandang Devan. "Ya?" Saat iris mata mereka beradu, Devan sadar dirinya tidak bisa lari lagi. "Jadi pacar gua."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • GUNFA
  • You're The Rain I (the injuries sustained) [HIATUS]
  • satu hati satu nama
  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • RAFA(Rain Rafa)
  • BROKEN
  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • Stay (Away)
  • Unfriend • Completed

Keduanya sama-sama tertawa ketika suasana perlahan mencair. Juwita yang mulai membuka diri kini kembali melontarkan pertanyaan acak yang Ia sesali setelahnya. "Kamu kalo kesini sama siapa, raf ? Pacar ?" Raut lelaki itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya berpendar kearah lain, menyembunyikan cemas yang tersirat di balik jawabannya yang santai. "Pacar saya lagi gga di sini, Rei. Dan dia bukan anak tongkrongan kayak kita." Tanpa sadar gadis itu menahan nafasnya sendiri, belum siap dengan jawaban yang diterimanya. "Oh, gitu. Udah lama LDR-nya ?" Juwita bertanya lagi dengan wajah ingin tahu, walau kenyataannya justru sebaliknya. Sebab menurutnya akan aneh ketika topik itu hanya berhenti sampai di situ saja. "Sejak lulus kuliah. Dua bulan yang lalu. Dia sekarang lagi lanjutin S2 di Jakarta." "Wowww,,,hebat ya dia masih semangat untuk kuliah. Limitted edition tuh cewek kayak gitu. Kamu beruntung, raf." Lelaki itu hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Juwita yang sedang menatapnya nanar. Setelahnya, obrolan itu terjeda beberapa saat. Keduanya kembali sibuk dengan isi kepala masing-masing. Juwita yang merasa bersalah karena telah menghadirkan pembahasan yang berat, juga Asraf yang kini sedang mengabaikan kenyataan yang membuat suasana kembali hening. "Kayaknya salah banget ya kita baru ketemu sekarang ?" Rasanya seperti ada sebuah kekuatan besar yang menyerap habis suara-suara di sekitar mereka. Heningnya terasa mencekam ketika hanya ada suara Asraf dan debar jantungnya di sana. Pertanyaan Asraf tadi menggaung di telinga, menimbulkan rasa perih yang tidak seharusnya ada. Untuk apa Ia merasa kecewa ketika tahu bahwa Asraf ternyata sudah punya pacar ? Bukankah mereka tidak pernah memiliki hubungan yang spesial sebelumnya ?

More details
WpActionLinkContent Guidelines