TIGA BESAR

TIGA BESAR

  • WpView
    Reads 3,378
  • WpVote
    Votes 674
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 2, 2026
Selamat datang di dunia mereka, tempat di mana sebuah peringkat dianggap menjadi takaran berharga atau tidaknya seseorang, seolah hidup hanya punya satu cara untuk dibanggakan. Di balik senyum yang mereka perlihatkan, ada pikulan beban yang tak pernah mereka inginkan. Ada yang terus maju walau tahu semuanya tak berarti. Ada yang selalu dianggap kurang. Ada yang selalu dibandingkan. Ada yang mengebur mimpinya sedalam tuntutan orangtua, dan Ada yang ingin berjuang, tapi tubuhnya tak memungkinkan. Tapi tak ada yang peduli pada gelapnya cerita mereka, orang-orang hanya tahu seberapa cerahnya pencapain yang sudah mereka dapatkan. Sampai dia datang, memutuskan untuk menggerakkan bidak demi menyelematkan satu jiwa yang menurutnya paling hancur. Tujuannya hanya satu: menjatuhkan sang juara agar 'cintanya' bisa naik takhta. Dan Ze adalah sasaran paling tepat. Yang selalu berada di puncak, yang terlihat lemah hanya karena tak pernah berdebat. Karena semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar pula keinginan orang lain untuk menjatuhkan. Ketika usaha mereka tidak cukup, ketika luka dan tuntutan semakin menikam, hingga akhirnya mereka memilih jalan yang kotor. Bukan lagi belajar lebih keras. Bukan lagi berkompetisi secara jujur. Melainkan menjatuhkan dari dalam. Karena cara paling cepat untuk naik adalah ... membuat orang lain dihancurkan. Persaingan ini bukan lagi tentang siapa yang terpintar, tapi siapa yang paling pandai menyembunyikan retakan di balik piala juara. Mari berkenalan dengan mereka-para 'pemenang' yang mengorbankan jiwa demi sebuah validasi. Dan lihat seberapa jauh mereka akan melangkah sebelum akhirnya hancur. Dari semua luka yang terungkap, kira-kira mana yang paling terasa dekat dengan kalian? ⚠️ REVISI BESAR-BESARAN. Update tiap hari di tengah malam atau dini hari. Publish : 3 januari 2023 Re-publish : 25 januari 2023 Re-publish ke-2 : 11 November 2025
All Rights Reserved
#74
goodgirl
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • TRANSMIGRASI INTELIGEN (TAMAT)
  • G in Luv (END)
  • 99,99
  • Bad & Crazy School
  • XEANEE [On Going]
  • Self Injury's(complete)✔
  • Beg to Me
  • THE LIGHT OF HIJRAH (A Secret) [ ON GOING ]
  • Hypocritical (Zeedel)

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines