Bandung || HAECHAN NCT

Bandung || HAECHAN NCT

  • WpView
    Reads 1,436
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 28, 2024
Antares, sebuah geng motor di daerah Bandung yang di pimpin oleh Haikal dan ke enam sahabat nya. Namun sejak kejadian satu tahun yang lalu, Haikal yang sudah bisa di katakan mati rasa kini kembali dapat merasakan nya. Sang pujaan hati kembali dari tidur panjangnya, namun ia tau akan banyak konsekuensi yg harus ia hadapi. "Kamu gak capek?" "Capek kenapa?" "Capek mencintaiku hshshs" "Gak tuh" "I love you sayanggg" "I Love you more Haikal"
All Rights Reserved
#270
sijeuni
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Hyung🔞 || Chenji/Jichen (END)✔️
  • It's Always Been You✔️
  • Kepincut || Jeong Jaehyun
  • Toxic | Park Jisung (✓)
  • CONTRAST | MarkHyuck
  • Teman Lima Musuh 🌤️
  • Selenophile (SUDAH TERBIT)
  • BLIND DATE | MarkHyuck
  • ADARUSA | Park Jisung (TAHAP REVISI)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines