Two Mrs. and One Mr.

Two Mrs. and One Mr.

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 19, 2023
Rumah tangga itu seperti bejana yang berisi kasih sayang, keharmonisan, kepercayaan yang membuat bejana itu berat untuk di pindahkan bahkan sulit retak saat di sepak oleh kaki. Jika saja komponen itu hilang satu maka tidak lagi berat untuk di pindahkan dan akan mudah retak jika di sepak. Lalu bagaimana jika orang yang membangun rumah tangga tak lagi mengalirkan kasih sayang dan berujung selisih paham membuat tidak harmonis bukankah komunikasi akan merenggang sehingga rasa kepercayaan memudar seiring berjalannya waktu? Tapi jika selama ini semuanya baik-baik saja tetapi salah satunya berpaling, apakah bejana itu kehilangan isinya tanpa sepengetahuan? Atau ada seseorang yang mengambil isinya? Kalau kamu yang memiliki bejana itu, apa yang akan kamu lakukan? ⚠️Adaptasi kisah nyata ⚠️Hanya fiksi semata ⚠️Dilarang mengutip isi tanpa izin penulis
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Suarasa
  • After Last Night (END)
  • Sekeping Rindu (END) (Sedang Revisi)
  • Berbagi Hati (Tamat)
  • Hanya Ini Yang KuPunya
  • My Sister Is My Sugar Baby Season 2 ( KEMBALILAH PADAKU  )
  • RETAK [END]
  • SERIBU SISI ORIGAMI [COMPLETED]
  • 𝙓𝘼𝘾𝙄𝙀𝙍𝙔𝘼
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
Suarasa

[Sekuel INSPIRASA] Pernahkah kamu membayangkan bagaimana orang-orang melanjutkan hidupnya sepeninggal insan terkasih yang tidak akan pernah kembali pulang? Mereka yang ditinggalkan anak yang paling dibanggakannya, yang menjadi patokan keberhasilan mereka menjadi orang tua. Mereka yang ditinggalkan kakak yang paling bisa diandalkan, menjadi panutan dalam hal menjalani hidup sebagai seorang anak. Dan aku yang juga ditinggalkannya. Yang berat menyebutnya sebagai kekasih sekalipun pernah berbagi rasa. Tidak mudah juga mengingatnya sebagai seseorang yang pernah hampir sampai menginjaki salah satu gerbang tahapan hidup meski jalanan yang tidak mulus itu sudah berhasil dilewati bersama. Mereka yang kelihatannya tidak sakit dan terluka meski apa yang meneduhkan itu roboh menimpa mereka, menyisakan puing-puing yang sulit untuk kembali dibangun. Pun aku yang tampak terlalu sakit dan penuh luka ini, berdarah-darah bangkit dan pergi meninggalkan semuanya, mencari dunia lain untuk bisa kembali pulih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines