Suka, identik dengan kebahagiaan. Dan duka, identik dengan kesedihan. Namun bagaimana jadinya jika ternyata hidup Duka nyaris selalu dipenuhi kebahagiaan dan hidup Suka justru nyaris selalu dipenuhi dengan kesedihan dan penderitaan?
Awalnya Suka dan Duka selalu bersama, sebelum akhirnya Suka berubah dengan alasan yang tak Duka ketahui.
Suka dan Duka tak lagi bersama, yang tersisa hanya Duka.
Duka selalu menanyakan alasan Suka berubah kepadanya, namun Suka selalu punya cara untuk membungkamnya walaupun bukan Suka sendiri yang melakukannya.
Hingga, saat dimana Suka pergi selama-lamanya tanpa bisa Duka gapai kembali.
Yang tersisa hanya penyesalan. Menyesal karena Duka tak pernah benar-benar bisa memahami Suka dengan kehidupannya yang rumit, menyesal karena Duka tak selalu ada disaat Suka butuh, menyesal karena dia mengira Suka baik-baik saja bahkan selalu merasa bahagia karena dia dianggap sempurna oleh orang-orang termasuk dirinya sendiri.
Keluarga Suka menyesal, namun penyesalan mereka tak dapat membuat Suka kembali: Kembali tersenyum kepadanya, menanggapi ceritanya dengan ceria, atau memamerkan prestasi-prestasinya walau katanya dia tak suka pamer.
Kisah kehidupan itu seperti aliran sungai, terkadang arus sungai landai dan terkadang pula deras. Kisah kehidupan bukan hanya tentang bahagia seperti yang semua orang angan-angankan, hidup juga tentang sedih yang manusia tidak pernah duga. Uniknya lagi kisah kehidupan bisa lebih dari sekedar bahagia dan sedih, mungkin ada dendam, benci, takut, marah, kecewa, cinta, rindu, dan semburat emosi lain yang belum manusia ketahui satu-persatu. Bersama dengan kisah kehidupan ini kalian akan melihat bagaimana keluarga ini mengalami semua semburat emosi dalam kehidupan.