PAINT
  • WpView
    Reads 1,539
  • WpVote
    Votes 1,020
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2026
Time Travel | Historical Mystery | Survival Sebuah tugas akhir semester membawa Asha ke dalam mimpi buruk yang nyata. Semuanya bermula saat Vika, sahabatnya, menceritakan rahasia kelam sebuah pulau mati yang musnah akibat wabah penyakit mengerikan di masa lalu. Didorong rasa penasaran, Asha mulai menggali sejarah tersebut. Lewat mimpi-mimpi buruk yang berulang, Asha tiba-tiba terlempar menembus waktu, terjebak di masa lalu tepat saat wabah mematikan itu sedang merajalela. Untuk bisa pulang, ia dipaksa menyelesaikan serangkaian misi yang berbahaya. Di tengah kepungan maut dan penyakit yang mengerikan, sanggupkah Asha bertahan hidup? Ataukah kehadirannya di masa lalu justru akan mengubah sejarah masa depan? 🏅#4 - lukisan 28/5/2024 🏅#2 - lukisan 22/5/2026
All Rights Reserved
#306
wabah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lantas (END)
  • Cinta Haluku Menjadi Nyata
  • ANNAZEIN (WONYOUNGXSUNGHOON) | END
  • Our Transmigration? Our? [ON GOING]
  • ZERO [Completed]
  • UTILIZATION
  • A Hundred Days Closer [On Going]
  • Me and You Are Too Different.
  • you are mine || rioncaine [END]

PERINGATAN ⚠️ Di beberapa part terdapat adegan kekerasan dan kata-kata kasar! ------------------------- Navisha Aqila Anastasia, gadis berambut sebahu berusia 17 tahun, adalah siswi cerdas yang selalu menjadi kebanggaan sekolahnya. Memasuki awal kelas 12, ia dipertemukan dengan Arzan Nauval Abraham, siswa yang harus mengulang tahun terakhirnya. Awalnya, mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan duduk di bangku yang sama. Namun, waktu demi waktu menghapus jarak di antara mereka, mengubah pertemuan biasa menjadi kisah yang tumbuh di sela tawa dan diam-diam yang saling mengerti. Hingga suatu hari, ada satu hal yang menyangkut orang tua mereka yang memaksa mereka untuk menjaga jarak, seolah perasaan yang sudah terlanjur tumbuh harus dibekukan begitu saja. Haruskah mereka menyerah pada ego orang tua mereka? Atau justru melawan demi kebahagiaan yang mereka yakini? ~~~ "Terima kasih, karena pernah menjadi rumah, meski bukan yang terakhir."

More details
WpActionLinkContent Guidelines