TULISAN TANGAN ARUNIKA

TULISAN TANGAN ARUNIKA

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 7, 2023
Siapa bilang kalau jadi anak perempuan itu menyenangkan? Siapa bilang menjadi anak perempuan tidak usah menjadi harapan besar keluarga? Menjadi anak perempuan itu nggak segampang ekspektasi kalian, apa lagi mempunyai saudara-saudara yang bisa di andalkan dari pada dirinya sendiri. Kata mama, "mama nggak mau aku lahir kedua ini, kata mama adanya diriku hanya beban bagi mereka" , lantas aku harus jawab apa? "Nggak ada yang minta buat dilahirin di keluarga ini, nggak ada yang minta buat di besarin kaya sekarang, nggak ada juga yang minta di biayai sama mama ataupun papa, justru kalian lah yang harus bertanya kepada diri kalian masing-masing kenapa mau membesarkan anak yang tidak kalian anggap keberadaannya? "Ma, tolong kasih tahu Runi gimana caranya biar jadi kebanggaan mama? Gimana caranya biar jadi kebanggaan keluarga, setiap kali mereka memuji Abang, kakak, dan adik, aku ngerasa kalau aku emang beda, kalau aku emang nggak bisa banggain mama dan juga satu keluarga? Setiap kali di bandingkan aku hanya diam, tersenyum tidak mau berperilaku buruk di depan mereka, karena apa? Karena aku ngerasa emang aku nggak pantes di keluarga ini ngerasa semua hal di antara kita emang beda.
All Rights Reserved
#44
anaktengah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • coward
  • Arexsa Jackson Devidos
  •  𝟕 𝐑𝐚𝐠𝐚 𝟏 𝐑𝐚𝐬𝐚 || 𝐄𝐍𝐇𝐘𝐏𝐄𝐍 [𝐎𝐧𝐠𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • Kebahagiaan Kecil Aralie. [ End ]
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • AFKARA [END]

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines