akankah cerita ini berakhir bahagia,bisakah tuhan berpihak kepadaku sekali saja. aku lelah, aku ingin menghilang seperti debu yang dihembus oleh angin.
Suasana rumah yang begitu luas, indah dipandang luas bak istana menggambarkan kebahagian bagia sebagian orang, namun siapa sangka tidak demikian rupanya, tangis seorang ibu yang sedang melindungi putranya dari amukan amarah laki-laki, suaminya, tulang punggung keluarganya. entah apa yang terjadi bak siang kian menjadi malam, kebahagiaan yang awal telah dirasa sempurna kini telah sirna.
" ayah, berhenti jangan memukulinya lagi, dia anak mu, pukul saja aku yah!' isakan seorang ibu yang kian pilu mendekap anak remaja yang kini terdiam menatap kosong, pikirannya kosong, rasanya dia mulai mati rasa.
Syafi remaja kecil itu hanya bisa meringkuk dipelukan ibunya, dia tidak tau apa yang harus diperbuat, dia takut, dia hanya memandang kosong lantai di depannya yang terdapat bercak darah yang berasal dari sobekan kecil di bibirnya akibat pukulan sang ayah.
" anak ini, tidak berguna bu, dia lemah! dia terlalu dimanja, dia lelaki kenapa lembek seperti perempuah hah!" amarah sang ayang tidak bisa dibendung. dia kecewa akan putranya yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. kegagalannya dalam menjadi petinju membuat dia berambisi untuk menjadikan anaknya seorang petinju yang hebat, dia ingin kegagalannya dulu dapat terbalaskan, dia tidak puas, dia ingin sang anak bisa memenuhi ambisinya.
'jika bisa meminta aku juga ingin menjadi apa yang mereka inginkan menjadi sumber kebahagiaan dan bisa dibanggakan, namun apa yang bisa kuperbuat selain usaha, walah setiap usaha yang telah dilakukan tidak membuahkan hasil yang ayahku inginkah, akankah tuhan berpihak kepadaku kali ini, rasanya terlalu lelah dan aku merasa tidak sanggup' Syafi merenung setiap sore, menyendiri adalah waktu yang tepat untuk dia berbicara dengan dirinya.
Baca lapak sebelah dulu biar nyambung, baca DeKaNa🔥
"M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik
Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu"
Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-"
Plak
Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani
"L-lo gila"
"Lo bawa gue kemana hah anjing?"
Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya.
Srett
"Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah.
Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini,
"Askar ternyata nggak guna"
Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya
"Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi
"A-abang"
"Kalau udah kek gini, baru manis diliat"
19 April 25