Cinta Ata & Karaeng
"....Wahai penguasa semesta, terima kasih atas anugerah cinta yang tak terbatas, tak mengenal usia, tak mengenal ras, tak mengenal agama dan status sosial. Cinta yang kau cipta adalah yang menghormati, bukan yang diperdaya, cinta itu dijaga dengan sepenuh hati, bukan mencipta luka. Bukankah seharusnya cinta menyetarakan umat manusia? Namun mengapa masih ada orang yang menganggap cinta kami haram? Jawablah....."
Cinta adalah anugerah yang indah jika jatuh pada dua jiwa yang tepat. Namun bencana bagi dua jiwa yang ditakdirkan untuk tidak bersama, seperti kisah cinta Ata dan Karaeng di Tanah Adat Kajang. Masyarakat adat Kajang secara kebudayaan melarang adanya ikatan perkawinan antara laki-laki keturunan Ata dengan Perempuan keturunan Karaeng sebab bagi mereka hubungan pernikahan berbeda status sosial tersebut merupakan aib bagi keluarga mereka.
Namun bagaimana jika ada sepasang kekasih yang saling mencintai namun berasal dari keturunan ata dan karaeng?
Kisah ini berawal dari seorang gadis bernama Andi Aina yang merupakan keturunan karaeng dari Tanah Adat Kajang yang merantau ke Kota Makassar untuk melanjutkan pendidikan. Di kota ini dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat tampan lagi baik budinya bernama Sahar, seorang pemuda yang berasal dari Pulau Kalimantan. Pada awalnya hubungan keduanya hanya sebatas pertemanan hingga akhirnya menjalin hubungan percintaan yang begitu dalam. Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama dengan indah, tidak pernah ada masalah serius dalam hubungan mereka. Hingga suatu hari Sahar mengunjungi rumah Andi Aina untuk bertemu dengan orangtuanya. Sahar banyak bercerita dengan orangtua Andi Aina terkait dengan kebudayaan masyarakat Adat Kajang, uang panaik hingga perihal keturunan. Pertemuan ini menjadi awal adanya konflik dalam hubungan mereka, disebabkan Andi Aina yang mulai menjauh sedangkan Sahar tak tahu apa-apa.
Lalu apa yang membuat Andi Aina menarik diri dan berusaha mengubur perasaan cintanya terhadap Sahar?