Raden Kian Santang -Two Lives-

Raden Kian Santang -Two Lives-

  • WpView
    Reads 24,486
  • WpVote
    Votes 3,128
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 29, 2025
WpInfo
Fiction
Historical
Dua sudut kehidupan yang berbeda, menunjukkan bagaimana mereka menyikapi masalah yang hadir di kehidupan masing-masing. Terkadang, ada kala dimana pikiran selalu menggiring untuk berhenti. Namun hati kecil dalam diri selalu menolak dan terus meyakinkan bahwa mereka bisa menghadapinya. Tak banyak orang yang mampu melakukannya, hanya orang-orang yang memiliki hati bersih nan suci disertai oleh rasa ikhlas dan tulus lah yang akan menuju keberhasilan. "Meskipun banyak orang yang tidak menyukai kehadiranku, aku akan tetap menjalankannya. Karena ini hidupku, dan yang menjalaninya juga aku bukan mereka." "Agamaku adalah poros yang menuntunku dalam segala keputusan yang ku ambil. Aku hidup untuk menjalankan tugasku sebagai hambanya dengan melakukan berbagai kebaikan, walaupun terkadang kebaikanku justru menjadi bumerang untuk diriku sendiri."
All Rights Reserved
#27
suheilbisyir
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Beauty and the Boss
  • Embun Pagi
  • MINE (END)
  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Oddly Coupley (Complete)
  • PUTRA PASUNDAN (Tahap Revisi)
  • CREATING LOVE
  • 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 [✓]
  • Nearby Relations
  • REYFAL

"Bilang kalau kamu mau aku pergi. Bilang kalau kamu nggak suka aku hadir di hidup kamu. Say it if you mean it." - Benara Wijaya Kamuflase cinta. Penorehan luka. Hancurnya kepercayaan untuk bertahan. Kepalsuan dalam sebuah keluarga membuat Aluna Sarasita tidak akrab akan cinta. Sampai seorang lelaki tampan nan mapan yang merupakan pemilik hotel Saint Wijaya tempat mereka dipertemukan, menetap di dunianya bak lentera dalam gulita. Terdengar seperti omong kosong! Bahkan lelaki biasa pun enggan menerima Saras apa adanya. Namun, Benara Wijaya benar-benar berbeda. Saras tahu, menerima Ben adalah sebuah kekeliruan. Sekalipun lelaki itu berupaya meyakinkannya, kehidupan Ben yang sempurna tetap menjadi alasan bagi Saras beranggapan Ben tidak akan pernah memahami kondisinya. Mereka berbeda. Bak bumi dan langit. Bak hitam dan putih. Saras pun semakin yakin untuk menghapus Ben dari hidupnya. Tanpa peduli harapan yang telah dibangun oleh lelaki itu. Tanpa peduli ada hati yang hancur berkeping-keping karenanya. Lantas, berhasilkah Benara Wijaya membawa Saras pada akhir kisahnya? Mampukah ia menyadarkan Saras bahwa perempuan itu adalah luka sekaligus bahagia terindahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines