NALA (JANTUNG HATI)

NALA (JANTUNG HATI)

  • WpView
    reads 60
  • WpVote
    Stemmen 16
  • WpPart
    Delen 2
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd zon, feb. 5, 2023
WpInfo
Fictie
Historisch
Pada abad 14 di Keraton Kanigara, Raden Argani Cakara Ganendra Kanigara. Nama tersebut diberi oleh sang Prabu Wiryarajasa Kanigara yang memiliki arti anak laki-laki yang berani melindungi seperti pasukan dewa. Raden Argani adalah putra satu-satunya sang Prabu yang akan menggantinkan posisinya untuk bertakhta, namun para petinggi keraton menolak pengangkatan Raden Argani. Sri Nala Maharani putri Adipati Jayantaka dari Kadipaten Mahasura, di jodohkan dengan Raden Argani sang pewaris takhta dengan maksud untuk memperkuat hubungan Kerajaan dengan Kadipaten Mahasura. Hampir di sepanjang hidup Argani hanya ada 1 wanita saja yang tidak bisa membuatnya berpaling. Raden Argani dikenal sebagai pewaris takhta yang suka berfoya-foya, tidak mementingkan rakyat dan urusan pemerintahan. bahkan rumor mengatakan Raden Argani adalah seorang pemimpin pasukan pemberontak dan terlarang di Keraton. Bagaimanakah kelanjutan kisah Sri Nala yang akan mendampingi Raden Argani ? **** Kisah ini adalah fiktif yang berlatar belakang seperti di era Majapahit. semua nama, tempat, tokoh adalah karangan penulis. Dan cerita ini tidak bisa dijadikan Patokan Sejarah karena cerita ini adalah hasil imajinasi penulis.
Alle rechten voorbehouden
#115
history
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • GARBHAPATI [REVISI]
  • TRIBHUWANA TUNGGADEWI (Kemelut Takhta dan Cinta) - TAMAT - PART MASIH LENGKAP
  • Prambanan Obsession (END)
  • GHENDIS
  • Mystery Files: Light of Catastrophe
  • Flower and the Crown
  • Sandyakala [SLOW UPDATE]
  • Legenda Patung Jayashree [TAMAT]
  • APSARA MAJA : SANG PARAMESWARI

Tinta emas menuliskan kemasyhuran Wilwatikta yang agung; puja-pujian bagi darah campuran pengkhianat dan pejuang yang bersatu, melahirkan raja-raja Jawa. Tak terhapus, namun namanya tercela sepanjang aksara pujangga yang menuliskannya: Jayanegara-yang kotor, tamak, rakus, dan cacat. Jayanegara, Yuwaraja yang hina, tiada sebaik-baiknya Maharaja Majapahit. Ia tumbal demi kemurnian tahta, kekuasaan fana yang ditebus leluhurnya dengan pertumpahan darah Mahisa Campaka dan perebutan singgasana yang berlumur durhaka. Dan kini, ramalan menggantung di ubun-ubunnya: wafatnya akan seiring dengan kecewanya Roro Sekarwuning, di bawah naungan Wintang Alit yang murka. Semesta mendengar tangisnya yang patah, mendengar amuknya yang terpendam dalam sunyi; dendam disemai, dan segala kutukan Kala menghantam jiwanya tanpa ampun. Seluruh jagat raya menolak kehadirannya, mengutuk setiap tapak yang ia tinggalkan di bumi. Namun Sanghyang Tunggal, dalam Krodha-Nya yang menggelegar, mengabulkan doa-doa Jayanegara yang terisak di antara dupa dan darah: terlahir kembali dalam perwujudan pria milenial abad ke-21, mengembara mencari cintanya yang hilang, memungut serpihan jiwa yang telah lama lenyap, di bawah bayang-bayang Kala Ratri yang tak pernah tidur. Indonesia, ranahasmoro. ©(2025-2026) [ Perlu diingat bahwa cerita ini merupakan karya fiksi dan fantasi. Beberapa elemen mungkin tidak sesuai dengan sejarah atau kenyataan. Hak cipta dilindungi. ]

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen