Ulsa terbiasa diam. Terbiasa menahan luka tanpa pernah benar-benar berniat mengobatinya. Sementara Nando terbiasa melampiaskan amarah-menjadikan orang terdekat sebagai samsak emosinya. Dan salah satu tempat pelampiasannya adalah Ulsa. Mereka sama-sama terluka, hanya saja berbeda dalam cara menghadapinya. Nando menyakiti Ulsa dengan kemarahan, Ulsa menyakiti dirinya sendiri dengan keterdiaman. Dan karena diam itulah, Ulsa harus menanggung lebih banyak sakit. Sampai akhirnya ia sampai di titik memilih-mengakhiri segalanya atau mencoba mengobati luka yang selama ini ia simpan sendiri. Di titik itulah Nando sadar, bahwa caranya melindungi diri justru menghancurkan orang yang paling ingin ia jaga. Dan semua itu, berakhir menjadi penyesalan yang tak punya ujung.
More details