Ku kira (kamu) Takdir ku

Ku kira (kamu) Takdir ku

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 1, 2023
WpInfo
Fiction
Social Themes
"Hallo,bunda?bunda duduk di shaf mana dhira bingung?" Kebingungan berjalan mencari bunda kesana kemari "Bunda ada di shaf depan sebelah kanan nak, kamu dimana? Bunda dari tadi nyari kamu loh" "Dhira di shaf paling belakang, sebentar bunda sekarang dhira kedepan, jangan di tutup dulu telponnya .." Setelah dhira mendapat informasi bahwa bunda berada di shaf paling depan ia,langsung bergegas untuk ke shaf paling depan dan telpon berlangsung untuk mempermudah ia mencari bunda ketika, ia berjalan tak sengaja ia melihat laki - laki yang selama ini ia tunggu kedatangannya. Dhira diam tak bergeming melihat laki laki yang selama ini ia cintai berada dalam majlis yang sama . Allah mempertemukan kembali setelah 6 tahun lamanya tak bertemu . Ponsel dhira terjatuh suara bunda tak terdengar lagi, nafasnya memburu, air mata jatuh tanpa suara, mata nya enggan berkedip karena melihat laki-laki yang selama ini ia cintai bersama perempuan lain.
All Rights Reserved
#215
dalamdiam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Dalam Iman
  • My bastard husband
  • senja di matamu
  • Halaqah Rasa
  • Aku Masih Percaya Cinta
  • Renjana : Arutala Dirgantara [Completed]
  • Qanita
  • Diam Yang Terpilih
  • SUJUD 2

Azha tidak pernah menyangka bahwa langkah pertamanya di pesantren akan mempertemukannya dengan Muaz-santri yang dingin, pendiam, dan selalu terlihat serius dengan hafalannya. Sejak awal, mereka berada di dunia yang berbeda. Muaz sibuk dengan hafalannya, sedangkan Azha berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, takdir selalu punya cara unik untuk mempertemukan dua orang yang seharusnya berjalan di jalur masing-masing. Tatapan yang tak sengaja, pertemuan di tempat yang tak terduga, hingga percakapan-percakapan kecil yang membuat Azha menyadari bahwa Muaz tidak sekeras yang terlihat. Di antara hafalan dan kesibukan pesantren, Azha mulai memahami bahwa ada jeda di antara mereka-sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jeda itu bisa berupa harapan, doa, atau bahkan perasaan yang perlahan tumbuh namun tak bisa diungkapkan. Tapi ketika waktu mulai memisahkan mereka, Azha dan Muaz harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua perasaan bisa menemukan jalannya sendiri. Apakah keduanya akan tetap berada di jalur masing-masing, ataukah takdir akan membawa mereka kembali bertemu di titik yang sama? Sebuah kisah tentang perasaan yang terpendam, tentang ketulusan dalam diam, dan tentang bagaimana Allah selalu punya rencana terbaik di setiap jeda yang tercipta. 🕐 UPDATE SETIAP SELASA & MINGGU

More details
WpActionLinkContent Guidelines