Dia Ranasha

Dia Ranasha

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Fri, Jan 27, 2023
Katanya, jangan sakiti hati penulis atau kamu akan abadi dalam suatu karyanya. Dia Ranasha, begitu kencang menyuarakan cintanya, Namun itu bukan jaminan bahwa rasanya akan terbalaskan. satu tahun lebih rasanya bertahan dengan sebelah tangan. Lantas apakah dia akan kokoh dengan rasanya yang abai dengan luka? Memulai lembaran baru dengan atau tanpa pangeranya? "Cukup sampai disini sabarku Nath, tentang kamu... Selesai. Semoga rasaku tidak habis sampai sini ya...?" "Sudah cukup lukanya luka darimu, keluarga, juga lingkunganku. Yang dibutuhkan sekarang adalah sadarku." MAAF GENRE CERITANYA AKU RUBAH LAGI SOALNYA YANG KEMARIN GAK NGEFEEL THANKS YANG BACA AND SORRY. JANGAN LUPA VOTE KOMEN AND FOLLOW GUYS.
All Rights Reserved
#270
fallinlove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • We Are One
  • ELGITA  (TERBIT)
  • Air Mata Elara
  • Juan [REVISI]
  • EPIPHANY
  • Hy Enemy! I MISS YOU. [LENGKAP]
  • Semu [Completed]
  • I'M HURT!

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines