SANDYAKALA

SANDYAKALA

  • WpView
    Membaca 722
  • WpVote
    Vote 7
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Jan 20, 2023
WpInfo
Fiksi
Romansa
Kami yang diperkosa Kami yang telanjang di antara sadar dan geram Kami yang mendesah di antara lara dan marah Kami yang merintih di antara jijik dan kesal Kami yang menjerit di antara kelamin dan tenggorokan Kami yang diperkosa kami yang diperiksa Kami yang teriak kami yang terjerat Kami yang mengadu kami yang mengadu Kami yang tergugu kami yang tergagu Ia menjamah tubuku, menikmati inci demi inci kulitku. Tanpa peduli jerit kesakitanku. Dirinya nampak puas, sedang aku merasa tewas. Tak ada perasaan senang atau gairah, yang ada hanya perasaan ingin mati. Ia membuatku merasa jijik pada tubuhku sendiri. Pada raga yang membersamai jiwaku. Dia bajingan kelamin yang hanya memedulikan nafsunya. Tanpa peduli bahwa nafsunya telah merenggut kehidupanku. Aku telah mati di detik pertama sejak dirinya menyentuh tubuhku dengan nafsu. Cerita ini mengandung adegan kekerasan seksual, oleh karenanya JANGAN MEMBACA KARYA INI, JIKA KAMU ADALAH SEORANG PENYINTAS ATAU SESEORANG YANG MEMILIKI TRAUMA PELECEHAN SEKSUAL. Cerita ini juga tidak tepat untuk kamu yang sedang mencari bacaan berbau erotisme.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#1
pelecehanseksual
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Misteri- US
  • You Are Only Mine
  • If we can together
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Full Of Scratches
  • Salah Target [Unpublish]
  • paint without t [end]
  • My Husband Is Ridiculous [TERBIT]
  • BAD LIAR (Completed)

Suatu hari kita dipertemukan oleh hujan, di bawah hujan, kita saling pandang. Kau ibarat payung, membuatku merasa teduh setiap kali dingin mengigilkan. Kita adalah sepasang rindu tanpa ikatan. Seringkali aku membatin, haruskah ku tanyakan perihal rasamu, mengapa kau selalu ada memenuhi segala kebutuhanku. Tuhan teramat baik. Tanpa waktu yang lama, kita akhirnya dipertemukam lagi, kali ini pertemuan yang sangat romantis. Kau memintaku menjadi pendamping hidupmu. Aku merasa beruntung, masih bernafas hingga detik ini. Tidak secuilpun, bahwa hidup bersamamu akan menjadi sebuah kenyataan. Lagi - lagi Tuhan teramat baik, dia berikan aku kesempatan membina keluarga sederhana bersamamu, bukan lagi hujan yang menciptakan romantisnya, namun pelukanmu adalah sebuah keromantisan yang setiap saat ku rasakan. Baru sejenak, karena Tuhan begitu sayang kepadaku. Sepulang dari Honeymoon, Tuhan menguji dengan perpisahan kita setelah honeymoon yang terasa begitu manis. Ingin ku sesali hari itu, andaikan saja begitu bathinku selalu bersuara. Namun, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri. Sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan, sembari menunggu benihmu yang tumbuh di perutku bisa menatap dunia. Aku tak sanggup lagi membaca deary yang ku pegang saat ini, yang ternyata adalah deary ibuku sendiri. Perlahan semuanya berlalu. Aku kehilangan arah dan tujuan. Semua berubah, kehidupanku. Hingga pada akhirnya, aku tersadarkan. Bahwa tidak ada surat ibu ke koran, tiada deary, tidak ada ibu angkat yang jahat, juga tidak ada kisah cintaku bersama Alex. Orang yang ku benci selama ini adalah ibu, perempuan yang melahirkanku. Perempuan yang masih bisa menatapku dengan penuh cinta, disaat suaminya, Ayahku. Harus meregang nyawanya karenaku. Semua ulahku, andai saja aku mendengarkan permintaan ibu untuk tidak menjalin hubungan dengan Arkan, ini tidak terjadi. Pasien skizofrenia ! Aku melangkah gontai, mengikuti langkah kaki perawat yang memanggilku.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan