PETIKAN TANGKAI

PETIKAN TANGKAI

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 18, 2023
WpInfo
Non-Fiction
Kakak beradik miskin yang harus menghidupi ibunya yang sakit, terlihat seperti kebanyakan acara tv yang menyedihkan dan klasik, namun keterpurukan dan kemiskinan adalah salah satu dari banyak hal yang paling sering terjadi di indonesia. Di pinggiran kota semarang. Hidup seorang kakak beradik, yang tak jauh tinggi dari adiknya yaitu si kakak bernama Bras dan Pari nama adiknya. Kehidupan yang tidak bisa dibilang cukup, memikul perjuangan untuk keluarga, sekalipun itu mencuri asal hal tersebut bermanfaat akan mereka berdua lakukan. Cerita dimana hal yang menyenangkan akan selalu menyenangkan dan sesuatu yang sedih akan sedih. Bras dan Pari yang umurnya masih terhitung jari harus menghadapi kerasnya hidup.
All Rights Reserved
#174
bersambung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • KARA
  • Your Life is My Life ✓ [KTH + JJK]
  • Destiny(?)
  • Intan dan printilan nya (gen13)
  • OTHER SIDE
  • [D E V A]🌷 Tamat
  • Stitch Our Scars (SOS) [COMPLETED]

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines