Mahen, kadang aku berpikir, kalau saja aku bisa lebih jujur, apa semua akan lebih baik? Aku tidak punya keberanian untuk memaksa atau melepasmu. Kepalaku selalu saja terjeda, setiap kali kau ada di depanku. Aku ingin lebih lama bersamamu, seperti ini. Karena aku selalu khawatir, semesta tidak sebaik itu untul membuat kita terus bersama.
Dan benar, kan? Kita hanya ditakdirkan sebatas ini. Mungkin, kisah kita tidak berakhir, tapi, semua tidak sama lagi. Kau tidak lagi membawaku, kemana pun kau pergi. Telingamu, tidak lagi mendengarku sepenuhnya. Atau sebenarnya, dari dulu sudah begitu?
Entah apa yang benar-benar aku punya darimu. Tapi, aku terlanjur salah paham, untuk semua kehangatan yang kau berikan.
Saat Salsa datang padamu, pada kita, aku menyadarinya lebih dulu. Matamu tidak bisa berbohong, ya? Kenapa jelas sekali kalau kau menyukainya. Apa karena aku selalu memperhatikan mata itu, jadi aku segera menyadari itu? Aku merasa tidak adil. Seharusnya, tidak ada yang boleh mengusik tidurmu, kecuali aku. Kenapa secepat itu, kau menaruh perasaan padanya? Ah, aku lupa, aku pun begitu padamu. Tidak ada yang bisa kusalahkan, kecuali perasaanku. Tapi, itu juga bukan kesalahan, kan?
Aku juga berpikir, kalau aku memberitahu perasaanku sebelum ada Salsa, apa aku punya kesempatan? Kau tidak mungkin menyakitiku, kan? Tapi, kalau itu melukaimu, aku tidak akan menyesal dengan keputusan ini. Aku lebih senang, mengenang semua kebersamaan kita, dari pada harus melupakannya.
Gapapa, kan? Aku mengenangmu seperti ini. Aku sudah mempercayakan semuanya pada takdir. Entah bagaimana, dia akan menuliskan kita.
Cinta pertama tidak pernah sederhana. Dua hati yang bertemu membawa kisah yang berbeda, dengan luka dan harapan yang saling bercampur. Ia tak pernah menyangka bahwa cinta bisa datang begitu tiba-tiba-di tempat yang bahkan tak pernah iaharapkan.
semuanya dimulai dari senyuman yang awalnya tak berarti, hingga kata-kata yang terus melekat di hati. Tapi di balik keindahannya, cinta pertama ini mengajarkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: perasaan takut, sakit, dan kebingungan yang bercampur jadi satu. perasaan yang tumbuh perlahan, melawan ketidakpastian dan rasa takut yang belum pernah ia kenal. Di satu sisi, dia bertanya-tanya, "Apakah cinta ini adalah berkah atau justru sebuah ujian yang akan melukai hati kami berdua?"
Di sisi lain, ada hati yang mencoba mencintai dengan tulus, meski bayangan masa lalu masih membekas. Dia bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah cinta ini akan benar-benar yang terakhir? Atau hanya sebuah cerita singkat yang akan berakhir tanpa jawaban?".
Namun cinta bukan hanya soal perasaan, tetapi juga keputusan. Keputusan untuk bertahan, melepaskan, atau memperjuangkan sesuatu yang mungkin tidak lagi sama. Ini adalah kisah dua orang yang mencoba mencari arti dari cinta, harapan, dan kehilangan. Sebuah perjalanan yang tidak hanya mengajarkan mereka tentang cinta, tetapi juga tentang diri mereka sendiri.