Dia Pergi

Dia Pergi

  • WpView
    Reads 274
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 28, 2023
"Gua pernah bilang sama lo jangan pernah lo deket apalagi ngobrol sama Gala." Kata Alana marah. " Aku nggak pernah dekat sama Gala dia sendiri yang deketin aku." Sangkal Erica. Dengan amarah yang sudah meledak Alana menjambak surai hitam milik Erica, dia menangis kesakitan. " Jangannn!" Sungguh memang rasa sakit yang saat ini Erica rasakan. "Alanaaaa." Alana menoleh ternyata sudah ada Gala dengan raut muka yang sudah memerah. Alana berhenti menjambak Erica karena Gala menarik nya untuk menjauh dari Erica. "Ica, lo pergi sekarang nanti gua nyusul." Kata Gala. "Erica salah apa lagi sama lo ?" Tanya Gala dengan nada dingin nya. "Gua nggak sudi dia deket sama lo, Gala." Jawab Alana tanpa rasa takut. " Gua juga udah kasih peringatan ke dia buat nggak deket sama lo lagi, tapi dia nya aja yang ngebangkang." Lanjut Alana. " Gua pernah bilang jangan nindas orang yang berada jauh dibawah lo apalagi dia nggak salah." Kata Gala dengan amarah yang hampir memuncak. Raut muka Alana tak menunjukkan bahwa dia takut dengan bentakkan Gala. "Sekali lagi gua tau lo nindas orang yang lemah, kita selesai." Bentak Gala kepada Alana. Alana yang mendengar pun menegang lalu mendongak ke atas untuk melihat Gala apakah ada raut kebohongan di wajahnya. Alana tak membalas apapun, Gala pergi begitu saja. " Gua nggak pernah takut sama ancaman lo Gala, karena gua yakin lo nggak akan sanggup hidup tanpa gua." Kata Alana percaya diri. " Ah, sial." Maki Alana dalam hati. * * * * * Kalau suka, langsung masukin perpus ajahh 😊😊
All Rights Reserved
#75
gala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bahagia & Luka (END)
  • AEL
  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • Antagonis 2 (END)
  • Kenopsia•_•
  • About feelings   (selesai)
  • ALEZRA (Thank you for coming)
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • DIA PERGI?!
  • Ketos Milik Aqila

HARAP FOLLOW DULU SEBELUM BACA! [Siapin tissue sebelum baca!] "Denger Shania, gue nggak pernah mengharapkan pertunangan ini. Ngerti?!" ucap Bara dengan penuh penekanan. Shania adalah sosok gadis cantik dengan hati lembut yang penuh kesabaran. Tetapi, tetap saja setiap orang pasti memiliki batas kesabarannya masing-masing. Shania bukanlah gadis yang beruntung karena memiliki kekayaan serta keinginannya yang selalu terpenuhi. Dia juga memiliki beban hidup yang sangat berat seperti manusia lainnya. Dia memiliki penyakit jantung. Shania membiarkan air matanya yang mengalir. "Gue minta maaf kalo selama ini gue cuma ngerepotin lo dengan penyakit gue ini. Bara, gue janji nggak akan nyusahin lo lagi. Gue sayang sama lo. Beri gue kesempatan buat memperbaiki semuanya, gue bakal berusaha sekuat tenaga buat sembuh biar lo bisa nerima gue. Jadi, tolong tunggu sampe waktu itu tiba. Gue mohon.." "Gue nggak peduli sama kesembuhan lo. Seandainya aja lo nggak pernah ada di kehidupan gue, pasti semua bakal baik-baik aja. Hahh miris, kenapa gue harus ditakdirin sama lo?" seru Bara. Bara adalah teman masa kecil Shania. Gadis itu sangat menyukainya. Dulu Bara tidak pernah bersikap kasar padanya, namun kini keadaan sudah berubah. Dan apa sebenarnya alasan Bara melakukan itu? Hingga kemudian Arkan datang di kehidupan Shania. Dia adalah sahabat Bara. Dia yang selalu menghibur Shania setiap kali gadis itu sedih. "Jangan terlalu mengemis cinta, ingat kita itu punya harga diri. Dan cewek itu kodratnya dikejar, bukan mengejar!" ujar Arkan pada Shania. Seiring berjalannya waktu, Shania mulai membenci Bara. Tapi bagaimana jika orang yang ia benci itulah yang justru menjadi malaikat penolongnya? Lalu apa kabar dengan hati Arkan yang mulai menyukai Shania? "Gue percaya. Gue terlahir untuk menikmati bahagia dan luka." #Shania. [Terinspirasi dari drakor Extra Ordinary You. Pencinta Drakor pasti tahu wkwk.]

More details
WpActionLinkContent Guidelines