AKLES MEHRAN AKALANKA

AKLES MEHRAN AKALANKA

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 25, 2023
Cling.. Seorang paruh baya menatap ke arah dua orang yang tiba" menghilang dalam hitungan detik.. ia menggaruk tengkuknya dan bergumam sembari melangkah pergi dari hutan itu.. "aku rasa aku tak mengigau, aku jelas² melihat mereka dan mansion megah itu, lalu kenapa sekarang hanya ada pohon rimbun?" WARNING!!! Cerita ini aku buat karena belum bisa move on dari mimpi itu, jadi aku ada ide buat di jadiin cerita biar aku bisa kenang mimpi nya.. semoga suka, jangan berharap lebih dengan ceritanya ya. karna aku cuma menceritakan kembali mimpi aku dengan aku tambah sedikit bumbu² biar makin greget..
All Rights Reserved
#1
vantasi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • Ashita 2  :   your Memory Of Darkness
  • Prambanan Obsession (END)
  • Hantu Naci Piuu! [END]
  • Anaking
  • Penguasa Alam Ghaib
  • PEWARIS CINCIN KUTUKAN
  • Sulaksmi - SEGERA DITERBITKAN
  • my world is a magical world
  • Lain Dunia (Tamat)

(BASED ON TRUE EVENT) **** Ini adalah kisahku saat mengikuti perkemahan PMR Regional provinsi. Dimana lokasi yang ditempati merupakan tempat pembantaian terbesar PKI dimasanya. Kisah kelam korban di masa lalu membentuk entitas kengerian ditempat itu. Sosok-sosok yang masih tak terima saat dibantai karena ketidakadilan memenuhi lokasi area bekas Belanda tersebut. Disini mereka menanti. "Kebun Djengkol". **** BRAKKK... Tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya. Spontan aku yang kaget langsung berlari menjauhi. Ketika melewati tembok jalan keluar bilik kamar mandi, aku tak sengaja menabrak seseorang. "Cuk!!!" Awalnya pemuda itu sempat marah, namun ekspresinya berubah saat melihat wajahku yang sudah pucat pasi. Aku pun bengong sepersekian detik. Bukan, bukan karena terpesona melihat wajah orang tampan layaknya adegan film-film romantis remaja. Namun aku berusaha menenangkan diri dari sisa ketakutan. Pemuda itu menatapku dengan ekspresi yang susah dimengerti. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Nggak apa-apa. Maaf nggak sengaja nabrak". "Kenapa? Habis liat hantu ya?" "Ah ituu ..." "Kuntilanak ma setan bocahnya masih ngeliatin kamu tuh." Ucapnya santai. Dadaku kembali berdegup kencang sambil mengumpat lirih. Kini aku ganti memandangnya lekat. Dan pemuda itu membalas reaksiku dengan menyipitkan mata. "Apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu bisa liat kan 'mereka' kan?" "Liat apa?" Aku sedikit melangkah mendekatkan diri sembari berbisik "Demit" Pemuda itu sempat terbahak. Lalu tiba-tiba menjulurkan sebelah tangannya. "Aku Aji." ****

More details
WpActionLinkContent Guidelines