Story cover for Sadewa (END) by Re_aksa13
Sadewa (END)
  • WpView
    LECTURAS 12,898
  • WpVote
    Votos 1,529
  • WpPart
    Partes 59
  • WpView
    LECTURAS 12,898
  • WpVote
    Votos 1,529
  • WpPart
    Partes 59
Concluida, Has publicado ene 22, 2023
Sadewa Chandra Mahendra pria yang tak pernah bisa menjalani kehidupan dengan tenang, bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati. Namun, karenanya gadis itu justru mengalami teror dari musuhnya. Bagaimanakah Chandra melindungi sang gadis?

"Kalau lo mau tanda tangan gue, lo harus jadi pacar gue. Lo butuh tanda tangan ini kan? Biar engga di hukum?" Ucapan itu sukses membuat Reyna berpikir.

"Adik pintar" ucap pria itu lalu mengusap kepala Chandra. Chandra menolak dengan menggerakan kepalanya. Pria itu tertawa lantas menginjak motor Chandra menyebabkan rasa nyeri kembali hadir dari arah kakinya yang masih terhimpit.

"Chan, lo harus bisa bertahan bentar lagi kita sampai" ujar Haikal menguatkan.
"Lo kuat, gue yakin" Ucap Arseno menimpali.
"Kalau gue kenapa-kenapa, gue titip Reyna ya" ucapnya sebelum menutup mata.




Note : akan di update secepatnya
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Sadewa (END) a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#213whitory
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Eshal Renjana (Lengkap)✔ de Nana_Kiyowoo
56 partes Concluida
"Gala.." lirih gadis itu yang kini menatap nanar ke arah laki-laki disampingnya. "Kenapa hem?" Tanya nya kemudian, satu tangannya terangkat mengusak rambut hitam itu yang dibiarkan tergerai. Cantik, sangat cantik. "Papah.." Gadis tersebut berhenti sejenak, tak kuat melanjutkan kalimatnya tatkala suara isakan lolos begitu saja dari kedua belah bibirnya. Hatinya gundah. "Papah mau nikah Gal, gue takut-" "Gue takut papa gak sayang lagi sama gue. Gue gak bisa." Tangisnya pecah, takut, sebelumnya ia tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini. Ia sungguh tidak bisa walaupun hanya untuk sekedar membayangkan bagian terburuknya. Laki-laki disampungnya hanya bungkam. Tak pandai mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan direngkuhnya tubuh itu kedalam dekapannya. Dipeluknya erat, seolah-olah mengatakan bahwa gadis itu akan baik-baik saja. "Dengerin gue, kalaupun itu terjadi. Lo masih punya gue. Rumah kedua lo. Orang yang akan selalu ada disamping lo." -------------- "Gala....tolong jangan tinggalin gue." Mohon Renja. Kedua air matanya kian berderai ketika Gala justru malah bangkit berdiri dari duduknya. "Maaf Ren, gue gak bisa. Dia butuh gue." Ucapnya dan segera bergegas pergi. Meninggalkan Renja sendirian yang kian menganga lukanya dan sama membutuhkannya. Atau bahkan sangat membutuhkannya. Dan untuk yang kesekian kalinya ia ditinggalkan oleh orang-orang tersayangnya. Nyatanya manusia itu berubah. Ia menyesal karena pernah begitu percaya.
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
INEFFABLE | Na Jaemin✔ cover
Don't hate me || Jeno Jaemin [END] cover
Eshal Renjana (Lengkap)✔ cover
Salam untuk senja [SUDAH TERBIT] cover
[Terjemah] SAVE ME, KEEP ME | MarkChan GS ✔️ cover
ROYAL AND NOBLE cover
GORGEOUS cover
Rewrite The Star || NCT WISH {END} cover
A GA TA || Lee Jeno [COMPLETED] cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 partes Concluida

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."