RainWay
  • WpView
    Reads 261
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 24, 2023
"Emang Lo nggak bosen,liatin hujan segitunya?" Bella menggeleng lemah.Jujur,sedari tadi hati nya tengah gundah dikarenakan ia ingin sekali bermain hujan dan menikmati derasnya hujan tetapi,hati Bella seakan meringis,mengingat jika ia pernah dikurung di kamar oleh ayahnya sendiri. "Mau gue temenin sampe kapan?"Ucap Adrian sembari mengulurkan tangannya kepada Bella. "Ha?maksudnya?"Bella sama sekali tak mengerti arah pembicaraan Adrian yang menurutnya agak membingungkan. Hembusan nafas terdengar dari mulut Adrian.Sepersekian detik kemudian,Adrian menarik tangan Bella dan menggenggamnya."Mau gue temenin main hujan sampe kapan?"Adrian tersenyum mengejek,tapi,Bella tau bahwa Adrian hanya bercanda dan ingin menggoda nya saja. Bella tersenyum tipis kemudian ia mulai menggenggam erat tangan Adrian,seakan tidak ingin kehilangan Adrian."Sampe Lo peka sama gue kak."
All Rights Reserved
#78
adrian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Brothers
  • Suddenly Marriage
  • Crazy Marriage
  • Albel
  • Kawin Gantung(SELESAI)
  • Menyimpan Rasa (END)
  • Sweet RomanShit
  • The Man
  • Rannia√
  • Hujan dan Sebuket Dandelion
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines