Sebening Cinta Nadira

Sebening Cinta Nadira

  • WpView
    Reads 323,673
  • WpVote
    Votes 13,976
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 2, 2016
Jalan takdir mempertemukan aku dengan lelaki ajaib ini, baru bertemu tiba-tiba saja dia mengajakku berpacaran. Tentu saja aku menolaknya, karena memang itu tidak ada dalam ajaran agamaku. Tapi ternyata penolakanku tidak membuatnya mundur, dengan nekatnya lelaki ajaib itu melamarku dihadapan banyak orang dan tentu saja aku shock dibuatnya. Hanya satu yang kuingin tapi ternyata dia tak cukup mengerti dengan maksud tersiratku. Sikapnya yang selengean berhasil menghancurkan ketenanganku dan beberapa kali aku harus menahan emosi menghadapinya. Mungkin hanya dihadapannya saja aku berani menunjukkan sikap jutekku yang terpendam ini. Kegigihan dan kepercayadiriannya berhasil membuat hatiku tersentuh. Masa lalunya yang suram mau tak mau menjadi bahan pertimbanganku dan kedua orangtuaku, apakah dia tepat untukku dan apakah aku juga tepat untuknya. Satu yang kuyakini, Allah sudah memilihkan lelaki untuk menjadi imamku, yang mampu membimbingku dalam kebaikan. Prayoga Kurniawan kah orangnya???
All Rights Reserved
#893
absurd
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • Sedekat Nadi Sejauh Matahari [BELUM REVISI]
  • I love you, Mas Duda
  • CINTA UNTUK SENJA
  • Sekali Lagi (End)
  • Rendra & Lila [END]
  • MY BOYFRIEND IS MY HUSBAND
  • Syariat Husband
  • Dia yang Tertulis di Lauhul Mahfuz
  • You Promised [END]

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines