Antara Aku Dia Dan Doa

Antara Aku Dia Dan Doa

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 28, 2023
WpInfo
Fiction
Social Themes
Menyibukkan diri dengan banyak hal adalah salah satu mencoba melepas paksa cinta yang telah begitu lekat. Begitu juga yang dilakukan oleh pria yang sangat sibuk di negara orang lain, mengejar impiannya menjadi pemuda sukses, dan tidak lupa ia lebih dekat dengan Tuhannya, ketika menyibukkan diri tidak juga bisa menghapuskan perasaannya disaat itu lah ia semakin dekat dengan tuhannya. Bukan kah? Allah maha pembolak balik hati.
All Rights Reserved
#887
religius
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rohis Love Location #WATTYS2019
  • Dear Hubby
  • Aku Tersentuh Cinta
  • Zaujati
  • Dia Suamiku (ENDING)
  • AKADIBA • Rasa dan kita (END)
  • Ikhlasku Merelakanmu (END)
  • Terjebak Dalam Ruang (COMPLETED)
  • ASHILA
  • Takdir From Allah (End)

Pria itu tampak tersenyum tipis. "Aku tidak tahu, tapi aku sungguh tidak menyukai itu. Aku dekat denganmu hanya sebatas karena rekan kerja saja, sama seperti aku dengan Aara. Bahkan aku rasa aku lebih dekat dengan Aara. Tapi apapun alasan mereka mengatakan aku mempunyai hubungan denganmu, aku sangat berharap kalau kamu mempunyai pikiran sesuai apa yang aku harapkan. " Dia menarik napasnya panjang lalu membuangnya. "Aku harap kamu juga seperti aku. Aku menganggapmu sebagai rekan kerjaku, dan kamu pun begitu, menganggapku hanya sebagai rekan kerjamu. Jangan merasakan apapun padaku melebihi batas itu. Aku harap, kita tidak terjebak dalam rasa yang tidak seharusnya timbul, Nafsiyah." Karena cinta tak selamanya berwarna merah jambu. Adakalanya kita harus merasakan pahit dan kelamnya warna kelabu. Tapi nikmati saja, luka yang seolah tak berujung ini bisa jadi akan aku rindukan suatu saat nanti. Karena pada saat itu, setidaknya aku masih bisa bersamamu. Ilyasa Khalifatul Kahfi

More details
WpActionLinkContent Guidelines