Sorry, I Love My Ex Husband

Sorry, I Love My Ex Husband

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 9, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Seorang artis papan atas yang bingung mencari calon istri tiba-tiba bertemu perempuan biasa yang menyapa nya, dalam hati Reihan Arditto, ' timing yang pas'. Setelah hari itu, Lala dan Ditto sepakat menikah dengan syarat. "Gue mau kak Ditto bayarin biaya gue pindah jurusan kuliah tahun ini jalur mandiri," kata Lala. "Iya, gue juga punya syarat. Jangan sampe ada yang tau kalo kita nikah boongan dan setelah ahli waris diganti nama gue, kita cerai," kata Ditto. Akankah pernikahan tanpa dasar cinta ini berjalan dengan baik? Atau hanya mengundang bencana yang lebih besar ke depannya?
All Rights Reserved
#22
lala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Surat Undangan dari Orang yang Kucinta (Sedang Revisi)
  • Mission 21+
  • NIKAH KONTRAK
  • Hanya Kepada-Mu
  • ME AND MY HUSBAND (Let's Get Married)
  • Marriage First, Love Later
  • Hi, Husband!
  • °メDipaksa Kawinメ° [SELESAI]~

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines