URUP SURUP [on going]

URUP SURUP [on going]

  • WpView
    Membaca 8
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Jan 27, 2023
WpInfo
Fiksi
Horor
Apa jadinya jika surup (senja) berhenti memulangkan lelah? Dan jangan salah. Malam yang menyiput menjemput pagi bukan bagian terparah. Setiap sesudah matahari berlabuh ke peraduan, bencana melanda. Keranda yang keliling desa dibantu kabut dan sosok-sosok tak kasat mata? Ada. Serbuan hama kiriman panitia neraka? Ada juga. Kematian janggal warga dalam waktu yang berdekatan? Adaaa. Serangan pasukan mayat hidup yang menjengkelkan? Ada pokoknya. Menyalakan harapan, kemudian, menjadi satu-satunya pembeda. Akankah Asaar mampu bertahan? Benarkah takdirnya sudah ditentukan? © ava bercerita ===== Plagiasi gelut aja kita ;)
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Dfoll's [✓]
  • Senja Termendung
  • Rumah Kuyang
  • REGATHAN [END]
  • H U R T
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • Ada Apa Dengan Waktu ?
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]

𝐈𝐥𝐮𝐬𝐢 𝐓𝐨𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐍𝐚𝐛𝐚𝐬𝐭𝐚𝐥𝐚 𝐔𝐧𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐞 - Bagian Kedua "Whispers Of Plague; When Spring Brought Death" Musim semi datang tanpa warna. Bukannya bunga, yang bermekaran adalah bau besi dan daging yang mengering di celah puing-puing. Hujan turun, membasuh arang dan abu, tapi tak pernah cukup deras untuk membasuh dosa manusia. Di antara reruntuhan negeri yang dulu bernyanyi, kini hanya angin yang menjawab, menyusuri lorong-lorong kosong dan berbisik di telinga anak-anak yang tak sempat dewasa. Gadis itu berdiri membelakangi dunia. Rambutnya pendek, berantakan, dan gaun putihnya berubah menjadi abu, seperti harapan yang dicuri oleh perang yang bukan miliknya. Ia diam, tak menangis, tak bertanya-karena jawaban tak pernah datang bagi mereka yang tertinggal. Negeri ini tidak hancur karena bom. Bukan karena api. Bukan karena kelaparan. Negeri ini hancur karena dendam. Karena satu nama yang dipelintir jadi kutukan. Karena warisan sakit hati yang diturunkan lebih cepat dari warisan tanah. Dan anak-anak lah yang membayar semuanya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan