Dunia Yang Bernyanyi
Di sebuah senja yang menggantung redup di ufuk abad ke-8, ketika dunia masih dipenuhi bisikan mantra dan bayangan makhluk tak kasatmata, sekelompok remaja dari desa pinggiran dilanda kebosanan yang menyesakkan. Mereka hidup di zaman ketika sihir bukan sekadar cerita, melainkan napas yang mengalir di antara hutan-hutan purba dan reruntuhan batu kuno. Demi mengusir jenuh, mereka memutuskan menyusuri jalan setapak yang belum pernah disentuh kaki mereka, jalan yang konon dihindari para tetua karena dianggap "terlupakan oleh cahaya".
Langkah demi langkah membawa mereka semakin jauh dari dunia yang mereka kenal, hingga akhirnya mereka berdiri di hadapan sebuah rumah tua yang nyaris runtuh. Dindingnya diselimuti lumut hitam, jendelanya gelap seperti mata yang kehilangan jiwa, dan udara di sekitarnya terasa dingin, seakan waktu sendiri enggan menyentuh tempat itu. Tak ada tanda kehidupan, hanya keheningan yang terlalu dalam untuk terasa wajar.
Rasa penasaran, yang dalam dunia sihir seringkali lebih berbahaya daripada pedang, mengalahkan naluri mereka. Tanpa memahami tanda-tanda kuno yang terukir samar di ambang pintu, mereka melangkah masuk.
Sekejap saja, dunia berubah.
Lantai kayu berderit seperti merintih, dan udara dipenuhi aroma dupa terbakar serta darah yang telah lama mengering. Saat mereka menoleh ke belakang, pintu yang mereka lewati telah lenyap, digantikan oleh dinding batu yang dingin. Mereka bukan lagi di masa mereka sendiri.
Rumah itu ternyata bukan sekadar bangunan tua, melainkan gerbang terkutuk yang mengikat jiwa-jiwa pada masa lalu yang kelam. Mereka kini terperangkap di era di mana sihir hitam merajalela, di mana pengkhianatan dan ritual terlarang meninggalkan luka pada waktu itu sendiri. Bayangan-bayangan bergerak tanpa tubuh, bisikan terdengar tanpa sumber, dan mata-mata tak kasat mengawasi setiap langkah mereka.