We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Dreams: Rindu yang tersembunyi (end)

Dreams: Rindu yang tersembunyi (end)

  • WpView
    Reads 443
  • WpVote
    Votes 208
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 28, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Aulia adalah gadis yang ceria dan penuh semangat, namun di balik senyumnya tersembunyi luka yang dalam. Dia tinggal bersama ayahnya, seorang pekerja keras yang selalu memberinya perlindungan dan kasih sayang. Namun, kehidupan Aulia tidak sesempurna yang terlihat. Kakak perempuannya, Shinta, yang seharusnya menjadi pelindungnya, justru menjadi sumber kekerasan fisik dan batin. Shinta merasa cemburu dengan kedekatan ayah mereka dengan Aulia, yang membuatnya merasa terpinggirkan dan tidak dihargai. Setiap hari, Aulia harus berjuang melawan ketakutan dan kesepian. Dia berusaha menjaga rahasia ini dari teman-temannya di sekolah, berharap mereka tidak melihat betapa rapuhnya dunianya. Sementara itu, ayahnya sendiri tidak menyadari perlakuan buruk yang dialami Maya, terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk Cerita ini mengisahkan perjalanan Aulia untuk menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri, menghadapi masa lalu yang kelam, dan mencari arti sejati dari keluarga dan cinta.
All Rights Reserved
#41
aulia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • A Love Story "Short Story"
  • My Brother's Rival is TOO OP (Tamat)
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Sejenak Luka
  • Rumah penuh luka
  • Sebuah Dandelion dari 056
  • ALKANTARA || END || Belum Revisi
  • Jejak Di Antara Bayangan [END]
  • STAR ALIGN

Hari yang dianggap musuh bersama oleh sebagian besar manusia bumi. Hari yang ditandai dengan tarikan napas berat, langkah yang malas, dan kepala yang enggan diajak kompromi. Tapi tidak bagi Aulia. Senin baginya hanyalah awal dari barisan hari-hari lain yang serupa: membosankan, melelahkan, dan hampa. Malam telah turun di kota. Hujan mengguyur dengan malas, tapi konsisten. Sadam memarkir mobilnya di depan rumah kecil yang lampunya remang. Rumah yang lebih sering sepi, tapi tak pernah mengusir. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang tak pernah dikembalikan. Bau balsem dan aroma kayu manis menyambutnya. Di dalam, Aulia terbaring lemah di sofa, masih mengenakan piyama, tubuhnya meringkuk seperti tak ingin menyentuh dunia lagi. Sadam berjalan pelan, lalu duduk di lantai, di samping tubuh itu. Hening sesaat. Lalu ia berbisik: "Kalau kamu tahu betapa keras aku melawan... mungkin kamu akan mengerti kenapa aku kembali." Aulia membuka mata perlahan. Wajahnya pucat, matanya sembab. "Mereka menjodohkanku dengan Luna," lanjut Sadam. "Tapi aku pulang ke sini. Karena cuma kamu yang aku tahu... bisa memeluk luka seperti aku." Ia menyentuh pipi Aulia yang dingin, lalu menariknya ke dalam pelukannya. Tubuh itu gemetar. Tapi tidak menolak. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mereka saling merengkuh tanpa pertanyaan. Tanpa janji. Hanya dua jiwa yang terluka, yang saling menemukan sisa-sisa kedamaian dalam diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines