Butterfly

Butterfly

  • WpView
    Reads 12,172
  • WpVote
    Votes 362
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 29, 2025
"Kau! Sebagai sesama perempuan ku harap kau mengerti untuk menjauhinya tanpa perlu ku suruh! Jangan merebutnya dari ku!" Dengan suara tinggi wanita itu meminta. "Aku memang tidak mengerti, dan kenapa aku harus menjauhinya? Aku sama sekali tidak merebutnya darimu. Dia yang memilih untuk bersamaku" Meski sempat mematung beberapa saat mendengar penuturan wanita itu tapi ia tetap menjawabnya. "Karena janin ini milik Arsel! Arsel milikku dan milik bayi kami. JADI PERGI DAN JANGAN MEREBUTNYA LAGI DARIKU!" Ia menunjuk perutnya sendiri dengan suara gemetar karena amarah lalu berteriak setengah histeris di akhir kalimatnya. Dhea, bagai runtuh bumi yang di pijakinya. Sendi-sendinya terasa melemah membuat ia hampir tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga harus dirangkul oleh kakak dan ibunya. Ia terus menggeleng dengan bibir terus bergumam mengatakan 'tidak'. Ia tidak ingin mempercayainya. Tidak mungkin Arsel mengkhianatinya sejauh itu di saat hari pertunangan mereka semakin dekat.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MEMELUK LUKA [END]
  • Why do I Like You [On Going]
  • Naura & Lukanya
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Bukan Kita D.A.N
  • Benalu [Terbit]
  • DAKSA [END]
  • Bad Girl VS Bad Boy {END}
  • Nazia
  • AFIKA [ ENDβœ” ]

Menjadi anak terakhir sekaligus satu-satunya perempuan dalam keluarga memang tidak mudah bagi Alea. Sejak kecil, ia tumbuh dengan beban yang diam-diam menghantuinya-beban harapan besar yang diletakkan di pundaknya oleh orang tua dan kakaknya. Mereka melihatnya sebagai harapan terakhir keluarga, seseorang yang harus bisa melampaui pencapaian ayah, bunda, dan abangnya. Ekspektasi itu begitu tinggi hingga terkadang membuat Alea merasa sesak. Setiap langkah yang ia ambil seolah diawasi, setiap keputusan yang ia buat harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak mengecewakan mereka. Ia harus menjadi lebih baik, lebih sukses, lebih segalanya. Namun, di balik semua itu, ada ketakutan yang terus menghantuinya yaitu kegagalan, takut mengecewakan, takut tidak menjadi seperti yang mereka harapkan. Terlalu sering ia memilih diam daripada mengungkapkan perasaannya. Luka-luka yang ia terima tidak selalu tampak di permukaan, tetapi mengendap jauh di dalam hati. Ia belajar untuk menyembunyikan lelahnya, menyimpan resahnya sendiri, dan terus berusaha sekuat mungkin untuk menjadi versi terbaik yang diinginkan keluarganya. #1 Melawanrestu #1 Anakterakhir #2 Bedakeyakinan #2 Alea #2 Pendidikan

More details
WpActionLinkContent Guidelines