Tangisan Yang Tak Terdengar

Tangisan Yang Tak Terdengar

  • WpView
    Leituras 31
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Capítulos 6
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qui, fev 23, 2023
Ini adalah kisah gue yang paling menderita karena di keluarga gue kenapa harus ada kata perceraian dan perpisahan? Sakit banget tau nggak? Gue nangis di malem hari diem diem biar ga ada yang tau gimana sakitnya jadi gue. Sesek banget nih rasanya dada, gue cuman pengen pergi ke suatu tempat yang ngga ada orang nya sama sekali kecuali gue dan gue akan berteriak sekencang kencangnya biar dada gue nih ga sesek. Dan di sini gue bisa bersyukur banget karena bisa ketemu sama orang yang tepat banget bagi gue. Gue harus bertentangan dengan ayah gue yang brengsek! Cuss lah baca yokk jangan di anggurin muluu
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • BarraKilla
  • J E S I S C A
  • Merindukan senja
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • The Real Family ?
  • 24/7 (HIATUS)
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • ALSTARAN [END]
  • Sederet Luka Untuk Indira (Sudah Terbit)

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo