Memaknai Jeda

Memaknai Jeda

  • WpView
    LETTURE 2
  • WpVote
    Voti 0
  • WpPart
    Parti 1
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione sab, feb 4, 2023
Ada kalanya jeda memberikan kita ruang, untuk sekadar duduk tenang, sembari mengenang, dan menata kembali apa yang sejauh ini telah kita rancang dan harapkan di masa mendatang. Mungkin pikiran kita sudah terlampau riuh dengan segala keluh, hingga diri merasa jatuh, dan sulit untuk menempuh. Ya, dengan jeda, mungkin kita bisa lebih memaknai hidup agar terus bertumbuh setiap harinya, hingga Sang Kuasa memanggil kita kembali untuk pulang. Selamat membaca, selamat berproses, selamat bertumbuh! Semoga tulisan ini bisa menjadi teman perjalanan kalian. Salam hangat dari aku yang masih terus belajar juga.
Tutti i diritti riservati
#3
berproses
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • It's Okay, Kamu Normal !
  • Penantian Yang Terbayar
  • Letters for Self
  • THE UNYIELDING  [END]
  • Aku (hampir) Menyerah ✔️ | END
  • between love and edelweiss [CHIKZEE] {END}~
  • Kamar Kosong 13 S2 [End] ✓
  • senja di matamu
  • don't leave daddy CH2 (END)

Banyak orang datang dan pergi tanpa alasan, sekalinya ada hanya seperti bayangan. Memang dalam menjalani proses kehidupan terkadang terasa berat dan melelahkan. Jadi tetap semangat ya untuk menggapai kebahagian. Sering kali suara ini dibungkam, segala usaha tidak dihargai dan telinga merasakan sakit karena suara-suara yang cukup berisik. Lalu esokan harinya semua dibanding-bandingkan seolah apapun yang dijalani salah sehingga terpaksa wajah ini memakai topeng kepalsuan lalu bergerak seperti wayang. Apakah harus diam melihat keasingan antara jiwa dan raga ini ? Apakah salah jika menjadi diri sendiri ? "Tuhan, kapan kebahagian datang kepadaku? Mereka sudah lari jauh didepan sedangkan diri ini masih pada tempatnya". Memang tanpa harapan hidup terasa hampa sedangkan kesabaran dan bersyukur merupakan salah satu kunci dalam kehidupan. Bukankah hanya Maha penciptalah yang bisa membantumu. Jadi apakah semua ini normal? Apakah hanya diriku saja yang merasakannya? Lalu bagaimana aku harus bertahan?

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti