Rindu Sendiri

Rindu Sendiri

  • WpView
    Reads 281
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 16, 2023
On going Melly Kemala Deviyanti tak pernah menyangka, bahwa ia akan dipertemukan dengan cinta pertamanya semasa putih abu-abu. Laki-laki yang diam-diam ia kagumi sewaktu Sekolah Menengah Atas, kini menjadi atasannya. Jantungnya masih berdebar-debar saat ia dekat dengan laki-laki itu. Ia berpikir cintanya terbalaskan, hingga ia menyerahkan keperawanannya untuk laki-laki yang bernama Ivan sanjaya. Sampai di mana, kenyataan pahit harus ia terima. Bahwa laki-laki itu tidak pernah mencintainya. "Ka-mu... belum mencintai aku?" "Maaf." "Kamu jahat, Van!" Melly memukul-mukul dada laki-laki itu. Hingga Ivan menangkap tangan Melly. "Ini juga nggak sepenuhnya salah aku! Aku nggak maksa. Kamu yang nyerahin diri kamu sendiri." "Aku pikir karena kita udah punya perasaan yang sama!" Melly mulai menangis terisak. "Gimana kalau nanti aku- " Ivan mengangkat tangannya. "Cukup, jangan mikir aneh-aneh! Kamu tinggal minum pil setelah ini, simple, kan? Aku nggak mau sampe kamu hamil dan ngerengek minta aku nikahin. Nggak... aku nggak akan nikahin kamu. Kita berdua ngelakuinnya karena sama-sama suka dan nggak pernah ada pemaksaan atau penolakan di sini. Paham kamu?!" Hai semua... ini ceritaku yang ke dua, semoga suka yaah. Maaf kan aku yang masih jauh dari kata sempurna. Jangan lupa follow akun Instagram ku @yunita buncit dan @story.buncit biar tau kapan aku update ceritaku. Terima kasih semuanya....
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SAH (Menikah Dengan Mantan)
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Someday
  • Good Girl, I love You
  • Dear Future (new version)
  • Promise Me ( END )
  • Mine [SELESAI] ✔
  • Broken Flower ( Spin Off TERJEBAK)
  • Silent, Please! (Re-up)

Amel di tawari uang senilai dengan jumlah yang harus ia bayar pada rentenir, sementara itu Evan ingin imbalan dari gadis di depannya, tentu saja... tidak ada yang gratis di dunia ini, Evan ingin Amel menjadi pengantinnya. "Kita tidur seranjang lagi?" Amel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Merasa kikuk dengan pertanyaannya sendiri. Kenapa ia merasa malu? "Kamu mau kita pisah ranjang?" Amel melongo, kemudian mengibaskan tangannya, "bukan gitu maksud aku!" "Ya, terus gimana?" "Kita pisah kamar aja?" "Loh kenapa?" Evan bertanya bingung. "Ranjangku cukup kok buat kita berdua," ucap pria itu, sedikit mengulas senyum tipis kala melihat Amel sedikit gelagapan. "Bukan gitu, Van..." "Ya gitu gimana sih, Mel? Ga paham aku," jelas Evan. "Kita kan cuma nikah kontrak," ujar Amel sambil bercicit di akhir kalimat, hatinya merasa tidak nyaman mengucapkan kalimat itu, bukankah dulu itu keinginannya? "Yang kontrak itu kan perjanjiannya, nikahnya Sah kok, Mel! Nggak salah kalau kita tidur bareng." Amel terdiam. Merasa kalah telak dengan ucapan Evan. Pernikahan mereka Sah, secara hukum dan agama. Yang kontrak hanya perjanjiannya saja. Amel termenung. Benar juga. Lalu, apakah mereka akan menemukan bahagia di antara lika-liku rumah tangga?

More details
WpActionLinkContent Guidelines